Ajima, yang meminta nama belakangnya dirahasiakan, mengaku sebagai kerabat anak laki-laki tersebut dan merasa sangat menyesal untuknya.
'Anak seusia itu seperti selembar kain kosong. Dia pasti mengalami banyak masalah, tapi tidak ada yang tahu mengapa dia memilih menembak sebagai solusi.
Saya merasa sangat kasihan padanya,' katanya.
Penyidik masih mencari motif penembakan tersebut, namun polisi pada Minggu (9/8/2026) mengatakan anak laki-laki itu pernah menonton video kekerasan secara daring dan pernah membawa senjata BB ke sekolah.
Sebelumnya, pejabat menyebut ia menghadapi stres terkait akademik, dan seorang teman sekelas mengatakan ia pernah di-bully.
Somjai Poosod, yang cucunya bersekolah di sekolah yang diserang dan salah satunya berteman dengan pelaku, mengaku merasa kasihan pada anak itu.
'Tentu saja saya merasa kasihan pada orang-orang tak bersalah yang terbunuh, tapi saya merasa ada masalah kesehatan mental yang mungkin perlu kita atasi untuk mencegah kejadian seperti ini terulang,' tambahnya.
Pelaku menggunakan senjata api milik kakeknya untuk membunuh kakek-neneknya sebelum berangkat ke sekolah.
Di sekolah, ia menembak mati lima guru dan staf, serta melukai seorang gadis berusia 12 tahun yang kemudian meninggal di rumah sakit pada Sabtu (8/8/2026).
>>> 5 Negara dengan Proses Visa Paling Mudah untuk Pemegang Paspor Indonesia
Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata tertinggi di kawasan ini, dan janji-janji sebelumnya untuk memperketat undang-undang senjata tidak mencegah penembakan berulang.
