Kongo telah menerima lebih dari 16.000 dosis vaksin Ervebo di tengah wabah Ebola tercepat dalam sejarah negara itu, kata Menteri Kesehatan setempat.
Sebanyak 16.250 dosis tiba di Bandara Internasional N'djili di ibu kota Kinshasa pada Jumat malam.
>>> Demo Mahasiswa 27 Agustus 2026 di Jakarta: Tuntut Kejelasan RUU Perampasan Aset
Dosis tersebut merupakan bagian dari 70.000 dosis yang diumumkan pada Kamis dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitra.
Lebih banyak dosis diharapkan tiba awal pekan depan.
Wabah Ebola saat ini di Kongo disebabkan oleh virus Bundibugyo yang langka, yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui.
Virus ini dapat menyebar dengan mudah dan tidak terdeteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti malaria.
Vaksin Ervebo dilisensikan untuk mengobati Ebola dan telah efektif dalam wabah sebelumnya.
>>> Ulama Nahdliyyin: Muktamar NU Harus Jauh dari Praktik Transaksional
WHO mengatakan vaksin ini mungkin memberikan perlindungan terhadap virus Bundibugyo.
Wabah terbaru ini telah mencatat 2.516 kematian dari 5.290 kasus terkonfirmasi hingga Jumat.
Penyebarannya belum mencapai puncaknya dan bisa mencapai tiga kali lipat tingkat yang diketahui, menurut data dari Pusat Pengendalian Penyakit Afrika.
Upaya untuk menahan wabah terhambat oleh konflik bersenjata antara pemerintah dan kelompok pemberontak yang menguasai kota-kota kunci di daerah rawan.
Serangan terhadap petugas medis dan fasilitas kesehatan, populasi pekerja musiman, serta pengungsian akibat konflik juga memperburuk situasi.
Kurangnya infrastruktur penting menjadi tantangan tambahan dalam penanganan wabah ini.