Musyawarah tertutup ini berlangsung khidmat di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), sebuah lokasi yang sarat akan nilai sejarah perjuangan NU. Di sinilah para ulama berdiskusi, bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk mencari sosok yang paling maslahat bagi organisasi.
KH. Miftachul Akhyar: Menjaga Estafet Kepemimpinan Spiritual
Pukul 22.00 WIB, Minggu (30/8/2026), ketegangan perlahan mencair ketika KH. Anwar Iskandar, selaku juru bicara majelis AHWA, membacakan berita acara pemilihan Rais Aam.
"Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH. Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam masa khidmat 2026–2031," ujar KH. Anwar Iskandar di hadapan ribuan warga NU yang menunggu di luar area persidangan.
Keputusan ini menegaskan kepercayaan para ulama terhadap KH. Miftachul Akhyar untuk melanjutkan estafet kepemimpinan spiritual (Syuriyah). Sebagai Rais Aam, beliau memiliki peran vital sebagai penjaga ortodoksi keagamaan, pemberi fatwa, serta penunjuk arah moral bagi warga NU di tengah arus modernisasi yang deras.
Namun, ada pesan khusus yang titipkan oleh majelis AHWA. KH. Anwar Iskandar menekankan bahwa tugas utama Rais Aam terpilih bukanlah untuk memisah-misahkan, melainkan merangkul.
"Ada catatan yang merupakan pesan dari AHWA semuanya, bahwa kepada Rais Aam terpilih diamanatkan untuk mengajak potensi yang ada di dalam NU dalam bentuk apapun. Ke depan bersama-sama merawat dan mengurus NU secara bersama-sama. Sehingga apapun background sebelumnya dalam dinamika organisasi ini semuanya akan kita ajak," tegasnya.
Pesan ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar, NU akan mengedepankan prinsip ukhuwah dan inklusivitas internal, merangkul semua elemen warga yang mungkin memiliki perbedaan pandangan politik maupun gaya berorganisasi.