unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Hasil Muktamar NU 2026: KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Resmi Pimpin Nahdlatul Ulama 2026-2031
News

Hasil Muktamar NU 2026: KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Resmi Pimpin Nahdlatul Ulama 2026-2031

Hasil Muktamar NU 2026: KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Resmi Pimpin Nahdlatul Ulama 2026-2031
Nu • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Gelombang takbir dan shalawat mengiringi fajar pagi di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Setelah melalui proses persidangan yang panjang dan alot, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026 akhirnya menghasilkan keputusan historis bagi organisasi Islam terbesar di dunia ini.

Pada Minggu (30/8) hingga Senin (31/8) dini hari waktu setempat, Majelis Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) secara resmi menetapkan pasangan kepemimpinan tertinggi untuk masa khidmat 2026–2031. KH. Miftachul Akhyar dipercaya untuk kembali mengemban amanah sebagai Rais Aam, sementara KH. Abdul Hakim Mahfud atau yang akrab disapa Gus Kikin, ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Penetapan ini menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan NU dalam menghadapi tantangan zaman di lima tahun mendatang. Lantas, bagaimana proses pemilihan berlangsung dan apa pesan penting di balik keputusan para ulama ini? Simak ulasan lengkapnya.

Mekanisme AHWA: Detik-Detik Penentuan di Tambakberas

Berbeda dengan organisasi kemasyarakatan pada umumnya yang menggunakan sistem voting terbuka ala parlemen, pemilihan pimpinan tertinggi NU memiliki kekhasan tersendiri melalui mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Secara sederhana, AHWA adalah dewan pemilih yang terdiri dari para ulama kharismatik dan tokoh kunci yang memiliki otoritas spiritual dan intelektual untuk mengambil keputusan mengikat demi kemaslahatan umat.

Proses ini bermula dari Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU. Berdasarkan tabulasi suara dari para wakil warga NU, terpilihlah sembilan nama ulama yang duduk dalam majelis AHWA. Kesembilan tokoh tersebut adalah:

  1. KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso)
  2. TGK. KH. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu, Aceh)
  3. AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA
  4. KH. Miftachul Akhyar
  5. KH. Afifuddin Muhajir
  6. KH. Anwar Iskandar
  7. KH. Anwar Manshur (Lirboyo)
  8. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj
  9. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA

Musyawarah tertutup ini berlangsung khidmat di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), sebuah lokasi yang sarat akan nilai sejarah perjuangan NU. Di sinilah para ulama berdiskusi, bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk mencari sosok yang paling maslahat bagi organisasi.

KH. Miftachul Akhyar: Menjaga Estafet Kepemimpinan Spiritual

Pukul 22.00 WIB, Minggu (30/8/2026), ketegangan perlahan mencair ketika KH. Anwar Iskandar, selaku juru bicara majelis AHWA, membacakan berita acara pemilihan Rais Aam.

"Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH. Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam masa khidmat 2026–2031," ujar KH. Anwar Iskandar di hadapan ribuan warga NU yang menunggu di luar area persidangan.

Keputusan ini menegaskan kepercayaan para ulama terhadap KH. Miftachul Akhyar untuk melanjutkan estafet kepemimpinan spiritual (Syuriyah). Sebagai Rais Aam, beliau memiliki peran vital sebagai penjaga ortodoksi keagamaan, pemberi fatwa, serta penunjuk arah moral bagi warga NU di tengah arus modernisasi yang deras.

Namun, ada pesan khusus yang titipkan oleh majelis AHWA. KH. Anwar Iskandar menekankan bahwa tugas utama Rais Aam terpilih bukanlah untuk memisah-misahkan, melainkan merangkul.

"Ada catatan yang merupakan pesan dari AHWA semuanya, bahwa kepada Rais Aam terpilih diamanatkan untuk mengajak potensi yang ada di dalam NU dalam bentuk apapun. Ke depan bersama-sama merawat dan mengurus NU secara bersama-sama. Sehingga apapun background sebelumnya dalam dinamika organisasi ini semuanya akan kita ajak," tegasnya.

Pesan ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar, NU akan mengedepankan prinsip ukhuwah dan inklusivitas internal, merangkul semua elemen warga yang mungkin memiliki perbedaan pandangan politik maupun gaya berorganisasi.

Gus Kikin: Darah Tebuireng untuk Eksekusi Program

Setelah posisi Rais Aam terkunci, agenda berlanjut ke pemilihan Ketua Umum (Ketum) PBNU pada Senin (31/8) dini hari. Posisi ini merupakan pimpinan tertinggi di jajaran Tanfidziyah (pelaksana) yang bertugas menerjemahkan gagasan-gagasan Syuriyah menjadi program kerja nyata.

Lima nama kandidat kuat diajukan ke Rais Aam untuk mendapatkan izin tertulis sebelum diputuskan oleh AHWA. Kelima nama tersebut berdasarkan perolehan suara terbanyak dari sidang pleno sebelumnya, yakni:

  1. KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) – 472 suara
  2. KH. Zulfa Mustafa – 262 suara
  3. KH. Abdussalam Shohib – 261 suara
  4. KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – 258 suara
  5. KH. Abdul Ghofar Rozin – 155 suara

Dalam musyawarah yang dimulai pukul 06.20 WIB tersebut, AHWA kembali mencapai mufakat. KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) resmi ditetapkan sebagai Ketum PBNU periode 2026-2031.

Pilihan terhadap Gus Kikin bukanlah kejutan bagi pengamat NU. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini memiliki rekam jejak yang mumpuni. Ia merupakan cicit dari Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Garis keturunan ini memberikan legitimasi historis yang kuat, sementara pengalamannya sebagai Ketua PWNU Jawa Timur dan Ketua PBNU membuktikan kapasitas manajerialnya.

Tantangan dan Harapan Baru

Kombinasi KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin di puncak pimpinan NU 2026-2031 menawarkan keseimbangan antara kedalaman spiritual dan ketegasan eksekusi. Di tengah tantangan era digital, polarisasi politik, dan isu-isu kemanusiaan global, NU diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang "mengisi" ruang publik, tetapi juga "menjadi" solusi bagi problematika umat.

Setelah penetapan Ketua Umum, agenda Muktamar selanjutnya adalah pembentukan Tim Formatur. Tim ini akan bertugas menyusun kepengurusan lengkap PBNU, termasuk memilih Wakil Rais Aam, Wakil Ketum, dan Sekretaris Jenderal, yang akan diumumkan dalam acara penutupan Muktamar.

Warga NU kini menatap ke depan dengan optimisme baru. Dari Tambakberas, Jombang, harapan akan kebangkitan NU yang lebih progresif namun tetap berakar pada tradisi ahlussunnah wal jamaah, kembali digaungkan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru