Gus Kikin: Darah Tebuireng untuk Eksekusi Program
Setelah posisi Rais Aam terkunci, agenda berlanjut ke pemilihan Ketua Umum (Ketum) PBNU pada Senin (31/8) dini hari. Posisi ini merupakan pimpinan tertinggi di jajaran Tanfidziyah (pelaksana) yang bertugas menerjemahkan gagasan-gagasan Syuriyah menjadi program kerja nyata.
Lima nama kandidat kuat diajukan ke Rais Aam untuk mendapatkan izin tertulis sebelum diputuskan oleh AHWA. Kelima nama tersebut berdasarkan perolehan suara terbanyak dari sidang pleno sebelumnya, yakni:
>>> Isyarat Trump Soal Tak Lagi Maju di 2028 Mulai Terlihat
- KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) – 472 suara
- KH. Zulfa Mustafa – 262 suara
- KH. Abdussalam Shohib – 261 suara
- KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) – 258 suara
- KH. Abdul Ghofar Rozin – 155 suara
Dalam musyawarah yang dimulai pukul 06.20 WIB tersebut, AHWA kembali mencapai mufakat. KH. Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin) resmi ditetapkan sebagai Ketum PBNU periode 2026-2031.
Pilihan terhadap Gus Kikin bukanlah kejutan bagi pengamat NU. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini memiliki rekam jejak yang mumpuni. Ia merupakan cicit dari Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Garis keturunan ini memberikan legitimasi historis yang kuat, sementara pengalamannya sebagai Ketua PWNU Jawa Timur dan Ketua PBNU membuktikan kapasitas manajerialnya.
Tantangan dan Harapan Baru
Kombinasi KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin di puncak pimpinan NU 2026-2031 menawarkan keseimbangan antara kedalaman spiritual dan ketegasan eksekusi. Di tengah tantangan era digital, polarisasi politik, dan isu-isu kemanusiaan global, NU diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang "mengisi" ruang publik, tetapi juga "menjadi" solusi bagi problematika umat.
Setelah penetapan Ketua Umum, agenda Muktamar selanjutnya adalah pembentukan Tim Formatur. Tim ini akan bertugas menyusun kepengurusan lengkap PBNU, termasuk memilih Wakil Rais Aam, Wakil Ketum, dan Sekretaris Jenderal, yang akan diumumkan dalam acara penutupan Muktamar.
Warga NU kini menatap ke depan dengan optimisme baru. Dari Tambakberas, Jombang, harapan akan kebangkitan NU yang lebih progresif namun tetap berakar pada tradisi ahlussunnah wal jamaah, kembali digaungkan.