unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Uzbekistan Sulap Sejarah Jadi Narasi Masa Depan Lewat Forum Media dan Perayaan Kemerdekaan
News

Uzbekistan Sulap Sejarah Jadi Narasi Masa Depan Lewat Forum Media dan Perayaan Kemerdekaan

Uzbekistan Sulap Sejarah Jadi Narasi Masa Depan Lewat Forum Media dan Perayaan Kemerdekaan
Uzbekistan Sulap Sejarah Jadi Narasi Masa Depan Lewat Forum Media dan Perayaan Kemerdekaan
A A Ukuran Teks16px

Tashkent, Uzbekistan – Ribuan drone menghiasi langit New Tashkent pada Jumat malam, membentuk gambar bergerak dalam perayaan 35 tahun kemerdekaan Uzbekistan.

Acara ini memadukan teknologi, sejarah, dan spektakel visual.

Presiden Shavkat Mirziyoyev hadir dan menyampaikan pidato tentang agenda nasional ambisius untuk dekade mendatang. Perayaan utama tahun ini digelar lebih awal dari tanggal resmi 1 September.

Selama hampir sepekan, jurnalis internasional di Uzbekistan mengamati upaya membentuk citra negara di mata dunia.

Dari 24 hingga 29 Agustus, Tashkent dan Samarkand menjadi tuan rumah forum media internasional bertajuk 'Islamic Civilization: A New Perspective — New Discoveries'.

Forum ini mempertemukan sekitar 300 jurnalis, eksekutif media, akademisi, dan pakar dari 50 negara. Mereka membahas manuskrip abad kesembilan, warisan cendekiawan Islam, hingga masa depan pembuatan film dokumenter.

Dari Manuskrip ke Kecerdasan Buatan

Forum dibuka di Center of Islamic Civilization di Tashkent, institusi unggulan yang didirikan atas inisiatif Mirziyoyev.

Sesi-sesi membahas pembuatan film dokumenter, memori sejarah, penerbitan, teknologi digital, dan kerja sama media internasional.

Para jurnalis dan penyiar juga membahas cara menyajikan peradaban Islam kepada audiens yang semakin mengonsumsi sejarah melalui platform streaming, media sosial, dan kecerdasan buatan.

Pertanyaan ini penting di era narasi budaya dapat menyebar global dalam hitungan detik.

Pendekatan Uzbekistan adalah mempertemukan situs bersejarah dan cendekiawan dengan jurnalis internasional. Forum membawa peserta dari Tashkent ke Samarkand, salah satu kota bersejarah terbesar di Asia Tengah.

Mereka mengunjungi situs warisan agama, ilmiah, dan arsitektur, termasuk Kompleks Peringatan Imam Bukhari.

Imam al-Bukhari, cendekiawan abad kesembilan yang lahir di wilayah ini, menyusun Sahih al-Bukhari, salah satu koleksi hadits paling otoritatif dalam Islam Sunni.

Bagi jurnalis, pesan forum melampaui agama. Uzbekistan ingin memposisikan warisan sejarahnya sebagai sumber daya untuk pendidikan, pariwisata, diplomasi budaya, dan produksi media internasional.

Relevansi dengan Korea

Forum ini juga menjadi kesempatan bagi profesional media Asia untuk membandingkan pendekatan menjangkau audiens global.

Media Korea hadir dalam pertemuan ini, menambah dimensi hubungan yang semakin luas antara Korea dan Uzbekistan.

Kedua negara memiliki hubungan ekonomi dan pendidikan yang erat, dengan perusahaan, universitas, dan institusi budaya Korea semakin terlihat di Uzbekistan.

Hubungan media adalah bagian yang jarang dibahas namun berpotensi penting.

Pengalaman Korea dalam mengubah konten budaya lokal menjadi hiburan global, seperti drama televisi, film, musik, dan platform digital, menjadi referensi bagi Uzbekistan.

Negara ini berupaya membuat narasi sejarah dan budayanya lebih mudah diakses secara internasional.

Penekanan forum pada penceritaan digital, produksi dokumenter, dan teknologi baru melampaui diskusi tentang Uzbekistan.

Ini juga percakapan tentang bagaimana negara dengan identitas budaya khas dapat berkomunikasi di lingkungan media global yang didominasi platform digital.

Kunjungan ke Samarkand menjadi bentuk jurnalisme paling efektif. Daripada menyajikan sejarah melalui pidato dan brosur, panitia membawa jurnalis langsung ke monumen bersejarah.

Lapangan umum kota, Masjid Bibi-Khanum, Gur-e-Amir, dan Observatorium Ulugh Beg menjadi catatan fisik pencapaian ilmiah, artistik, dan politik Asia Tengah abad pertengahan.

Bagi jurnalis, skala cerita lebih mudah dipahami saat berdiri di bawah arsitektur monumental.

Prinsip yang sama terlihat di kompleks Imam Bukhari.

Situs ini menggabungkan arsitektur religius dengan fasilitas penelitian dan pendidikan, mencerminkan upaya pemerintah menjadikan Uzbekistan pusat studi keilmuan Islam sekaligus tujuan wisata.

Penekanan pada keilmuan bergema di seluruh forum.

Panitia tidak hanya meminta jurnalis melaporkan masa lalu Uzbekistan, tetapi juga mendorong mereka mempertimbangkan bagaimana masa lalu itu dapat diinterpretasikan untuk generasi baru.

Transisi dari monumen bersejarah Samarkand ke New Tashkent sangat dramatis. New Tashkent dikembangkan sebagai pusat pendidikan, sains, dan budaya masa depan di samping ibu kota yang ada.

Proyek ini melambangkan upaya pemerintah membentuk kembali lanskap ekonomi dan perkotaan.

Pada 28 Agustus, Mirziyoyev mengunjungi Monumen Kemerdekaan sebelum menghadiri upacara peringatan utama. Dalam perayaan itu, presiden menyajikan kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi fondasi transformasi nasional jangka panjang.

Ia mengumumkan tujuh program pembangunan nasional dan menetapkan tujuan pertumbuhan ekonomi, investasi, pendidikan, dan bidang lain untuk dekade mendatang.

Pesan ini diperkuat oleh latar New Tashkent, kota yang dibangun untuk mewakili masa depan Uzbekistan.

Pertunjukan tradisional Uzbekistan berbagi panggung dengan penyanyi internasional. Teknologi visual mutakhir mengiringi tema sejarah.

Drone membentuk pola di langit malam. Masa lalu dan masa depan disajikan bersamaan.

Di akhir forum, panitia juga bergerak menuju kerja sama praktis.

Acara ini mencakup diskusi tentang kemitraan media internasional, produksi konten bersama, pertukaran profesional, dan kerja sama berkelanjutan antara institusi Uzbekistan dan organisasi media asing.

Uzbekistan adalah salah satu negara terpadat di Asia Tengah dan berada di jantung kawasan yang semakin penting untuk perdagangan, transportasi, energi, dan persaingan geopolitik.

Seiring profil internasionalnya tumbuh, pentingnya cara negara ini direpresentasikan di luar negeri juga meningkat.

Forum media Tashkent adalah latihan diplomasi naratif. Argumen utamanya sederhana: kisah Uzbekistan tidak bisa direduksi menjadi masa lalu Soviet, reformasi kontemporer, atau lokasi strategisnya.

Ini juga kisah cendekiawan, ilmuwan, arsitek, dan pemikir yang pengaruhnya melampaui Asia Tengah berabad-abad lalu.

Tantangannya kini membuat kisah itu relevan bagi audiens global.

Saat Carreras, Brightman, dan Safina tampil bersama seniman Uzbekistan dan drone menerangi langit, pesan tidak lagi disampaikan melalui manuskrip atau presentasi konferensi.

Pesan itu disampaikan melalui bahasa yang dikenal semua orang: musik, teknologi, spektakel, dan tekad negara untuk menentukan masa depannya sendiri.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru