unique visitors counter
⌂ Beranda News PBB Akui Pemanasan Global Lampaui Batas, Ini Jalan untuk Kembali ke Zona Aman
News

PBB Akui Pemanasan Global Lampaui Batas, Ini Jalan untuk Kembali ke Zona Aman

Ilustrasi pemanasan global dan perubahan iklim
PBB Akui Pemanasan Global Lampaui Batas, Ini Jalan untuk Kembali ke Zona Aman
A A Ukuran Teks16px

Laporan Rabu akhirnya mengakui bahwa dunia akan melintasi ambang 1,5 derajat "dalam beberapa tahun ke depan."

Skenario paling optimistis dalam laporan menunjukkan pemanasan memuncak pada 1,8 derajat sekitar pertengahan abad jika negara-negara mengejar target iklim yang ambisius.

Namun, kebijakan pemerintah saat ini diperkirakan akan mendorong suhu naik 2,6 derajat pada 2100.

Fokus pada Pembatasan Puncak dan Durasi Overshoot

Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen menekankan pentingnya membatasi puncak suhu baru dan mengurangi waktu di atas 1,5 derajat.

"Setiap sepersepuluh derajat yang kita hindari berarti lebih sedikit kerusakan," kata Andrew Weaver, ilmuwan iklim dari University of Victoria.

Dunia kemungkinan akan berada dalam periode overshoot selama "beberapa dekade," kata Betts.

Setiap lima tahun penundaan pengurangan emisi menambah setidaknya sepersepuluh derajat pada puncak pemanasan, menurut Joeri Rogelj, penulis laporan dari Imperial College London.

Laporan tersebut menegaskan, "Jika kita bertindak sekarang, kita dapat membatasi overshoot. Bukan dunia yang aman, tetapi lebih aman daripada tetap di atas 1,5 derajat dalam jangka panjang."

>>> Profil Aisyah Thisia Halijam, Istri Gubernur Kalteng yang Kembali Disorot

Weaver menyebut laporan ini sebagai salah satu laporan iklim PBB paling suram yang pernah dibacanya.

"Ini membawa nada keputusasaan, frustrasi, dan urgensi yang tak salah lagi—tetapi bukan pasrah," katanya.

Ilmuwan iklim Bill Hare, CEO Climate Analytics, menilai UNEP pandai menggambarkan lubang yang kita gali sendiri, tetapi kurang pandai menunjukkan jalan keluar.

Pemerintah perlu meningkatkan upaya adaptasi terhadap pemanasan yang memburuk, yang paling parah menimpa masyarakat miskin. "Karena beberapa dampak tidak dapat dihindari," kata Andersen.

Laporan menyebut fase ini sebagai "koping dan penahanan."

Selama periode overshoot, lebih banyak orang akan meninggal atau sakit akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

📰 Update Terbaru