Di era modern yang serba cepat ini, fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial seolah menjadi standar baru keberhasilan. Banyak orang terobsesi untuk cepat kaya, tak jarang dengan menghalalkan segala cara. Namun, di tengah hiruk-pikuk ambisi duniawi tersebut, mimbar-mimbar Jumat kembali mengingatkan umat Islam tentang satu kebenaran yang sering kali terlupakan: hakikat rezeki.
Dalam Khutbah Jumat yang diselenggarakan pada 4 September 2026, khatib mengangkat tema yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini: “Rezeki Halal Membawa Berkah, Rezeki Haram Membawa Musibah.”
Pesan ini bukan sekadar nasihat moral biasa, melainkan sebuah "alarm" spiritual bagi siapa saja yang sedang terjebak dalam ilusi harta. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam memandang kekayaan, dan mengapa rezeki haram bisa menjadi racun yang menghancurkan hidup?
Rezeki Bukan Sekadar Angka di Rekening Bank
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, dalam khutbahnya, khatib membuka dengan sebuah premis yang menohok: “Rezeki bukanlah sekadar seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan bagaimana cara kita mendapatkannya dan bagaimana cara kita membelanjakannya.”
Sering kali kita salah kaprah. Kita mengukur kesuksesan dari nominal gaji, nilai investasi, atau merek mobil yang dikendarai. Padahal, Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya raya. Menjadi orang terkaya, memiliki aset miliaran, bahkan triliun, itu boleh saja.
Akan tetapi, ada satu syarat mutlak: jadikanlah harta itu sebagai "jembatan" untuk menyempurnakan ibadah. Harta harus berfungsi untuk membantu sesama, menegakkan agama Allah, dan menyebarkan kebaikan. Ketika harta hanya ditumpuk untuk kepuasan ego, ia kehilangan ruh keberkahannya.
Jeratan Rezeki Haram: Antara Penyakit dan Jeruji Besi
Fakta lapangan menunjukkan, banyak orang yang mencari harta dengan cara yang batil—mulai dari korupsi, menipu mitra bisnis, riba, hingga investasi bodong. Awalnya, mereka terlihat hebat, dihormati, dan bergelimang kemewahan. Namun, lihatlah akhir dari perjalanan mereka!