Ia menambahkan, seluruh penciptaan tetap digerakkan oleh pemikiran dan pertimbangan estetika manusia. AI memang memangkas biaya perbaikan naskah yang biasanya besar.
Namun, AI memiliki keterbatasan karena tidak bisa memberikan penolakan intuitif seperti juru kamera manusia. Karena itu, perancang tetap mengandalkan insting estetika.
Untuk menghindari isu hak cipta dan menjaga kualitas seni, tim produksi tetap memakai pengisi suara manusia dan mempertahankan tim artistik utama.
Pengamat media dari Universitas Normal Nanjing, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menjadi bukti masuknya teknologi AIGC ke industri televisi arus utama.
Sebelumnya, teknologi ini hanya populer di video pendek internet.
Zhang mengakui ekspresi mikro karakter buatan AI masih kaku dan perkembangan emosinya terkesan formulatis.
Menurutnya, AI sanggup membangun kerangka visual megah, tetapi belum bisa memahami makna iman, pengorbanan, dan rasa kemanusiaan yang menjadi roh literatur klasik.