Di era di mana hustle culture (budaya kerja keras tanpa henti) dan pamer kemewahan di media sosial begitu glorifikasi, banyak orang terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan jumlah nol di rekening. Namun, sebuah refleksi mendalam dari Khutbah Jumat yang baru-baru ini disampaikan oleh Ustaz Amrullah mengingatkan kita pada sebuah hukum alam yang tak pernah berubah: Rezeki halal membawa berkah, sementara rezeki haram mengundang musibah.
Masyarakat modern sering kali mengukur kesuksesan dari apa yang terlihat oleh mata: mobil mewah, rumah besar, dan pakaian branded. Namun, Islam menawarkan perspektif yang jauh lebih membumi dan menenangkan jiwa. Rezeki bukanlah sekadar tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang bagaimana cara kita mendapatkannya dan untuk apa kita membelanjakannya.
Lantas, mengapa harta yang melimpah sering kali berujung pada kehancuran? Dan mengapa rezeki yang sedikit却能 (mampu) membawa ketenangan sejati? Mari kita bedah lebih dalam.
Sisi Gelap Harta Haram: Ketika Tubuh Menolak untuk Diselamatkan
Hadirin dan pembaca sekalian, kita pasti sering melihat berita tentang para koruptor atau pengusaha yang awalnya tampak begitu hebat, dihormati, dan bergelimang kemewahan. Namun, lihatlah akhir dari perjalanan hidup mereka. Harta yang mereka banggakan ternyata tidak mampu membeli ketenangan, apalagi kesehatan.
Banyak dari mereka yang di ujung usia justru terserang penyakit parah. Stroke, gagal ginjal, hingga jantung koroner sering kali menghampiri mereka yang hartanya bercampur dengan hak orang lain. Ironisnya, tumpukan miliaran rupiah yang mereka simpan di brankas atau luar negeri, sama sekali tidak bisa digunakan untuk "menyogok" sel-sel tubuh mereka yang rusak agar kembali sehat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan yang sangat keras dan logis secara medis maupun spiritual mengenai bahaya mengonsumsi harta haram. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi dan Ahmad, Beliau bersabda: