Hope (2026) menjadi proyek terbesar sekaligus paling liar yang pernah digarap sutradara dan penulis naskah Na Hong-jin sejauh ini.
Keberaniannya masuk ke genre fiksi ilmiah dengan jajaran pemain kelas A menjanjikan tontonan epik, terutama sebagai proyek comeback setelah sedekade kesuksesan The Wailing.
Hope tidak semengganggu The Chaser, segelap The Yellow Sea, atau seambigu The Wailing, tetapi menyaksikannya justru melelahkan dengan cara berbeda.
Babak Pertama yang Imersif
Penceritaan film terbagi menjadi dua babak.
Sejam pertama adalah masa krusial saat karakter, termasuk penonton, dibuat buta akan ancaman yang sebenarnya sedang dihadapi warga di desa dekat perbatasan Korea Utara.
Penonton dibawa ke ancaman yang belum terlihat melalui jejak-jejak berdarah yang bukan mainan baru bagi Na Hong-jin. Rasa penasaran pun berhasil dibangun.
Kamera bergerak agresif menyapu puing-puing kota, mengikuti kepanikan kepala polisi Bum-seok (Hwang Jung-min) yang tiba di lokasi saat segalanya sudah hancur lebur.
Bersama Im Sung-ae (Jung Ho-yeon), rekan aparat yang sepintas lebih nekat padahal isi kepalanya jauh lebih jernih, mereka memacu kendaraan melintasi jalanan kacau.
Maju-mundur di antara insting untuk kabur atau justru menabrak entitas misterius tersebut.
Na Hong-jin terlihat amat menikmati proses mempermainkan ketegangan ini. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai wujud monster itu benar-benar ditampakkan lebih dari sekadar sekelebat bayangan.
Sebelum momen itu datang, penonton dipaksa kembali ke insting murni anak-anak yang ketakutan mendengar derit suara asing. Rasa ngeri dibangun pelan-pelan.
Keberhasilan babak pembuka tak lepas dari tangan dingin sinematografer Hong Kyung-pyo. Kemampuannya menangkap atmosfer sunyi dan mencekam khas Zona Demiliterisasi (DMZ) membuat 60 menit pertama terasa imersif.
Babak Kedua yang Melelahkan
Sayangnya, rentetan pujian itu harus direm begitu alur menginjak babak kedua. Ekspektasi mendapat titik terang justru dibalas dengan sekuens aksi kejar-kejaran yang terus diulang tanpa formula baru.
Latar belakang para tokoh dibiarkan kosong. Na Hong-jin seolah sengaja melucuti ruang empati penonton terhadap karakter manusianya.
Citra pahlawan Bum-seok saat turun menyelidiki di awal mendadak luntur, memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai polisi payah yang kewalahan menekan ketakutannya sendiri untuk sekadar menaruh iba pada makhluk yang rupanya tengah terdesak.
Babak kedua dipanggul oleh Sung-ki (Zo In-sung) cs yang berujung jadi bulan-bulanan naskah.
Sisi manusiawi mereka ditonjolkan lewat kacamata tragis, yakni manusia yang dipenuhi keserakahan, berpikiran kerdil, dan gampang tersulut kekerasan brutal.
Menjelang sepertiga akhir cerita, film seperti mulai kehabisan napas.
Adegan kejar-kejaran yang terjadi terlalu panjang dari pasar desa, tembus ke lereng gunung, masuk gua, hingga jalan raya justru menggerus momentum ketegangan.
Eksekusi visual ikut memperparah keadaan.
Kualitas CGI yang sudah jadi buah bibir sejak sebelum rilis nyatanya terasa timpang, terutama jika membandingkan detail alien yang muncul pertama kali dengan yang datang belakangan.
Alien di desa harus diakui sebagai pemegang peran cukup penting dalam membangun ketakutan atas ketidakpastian, tapi visualnya saat pertama kali dimunculkan langsung meruntuhkan seluruh ekspektasi.
Satu-satunya pelampung di tengah kejenuhan alur adalah selipan komedi gelap yang mendarat di titik-titik tak terduga.
Na Hong-jin menjadikan momen ini sebagai cermin kecemasan kolektif umat manusia akan hal-hal asing.
Kepanikan menghadapi hal asing juga dimanfaatkan untuk menyentil banyak hal, mulai dari lambannya kinerja aparat yang rasanya relevan di negara mana saja, sampai kebingungan Bum-seok soal aturan senjata api.
Aktor Eum Moon-suk dan Hwang Seok-jeong turut membuktikan jam terbang mereka. Bermodal jatah tampil seadanya, mereka sukses memaksimalkan unsur komedi.
Namun, panggung komedi satir ini justru sering kali dicuri para karakter lansia yang meski muncul sepintas, ketangguhan dan kisahnya berhasil menarik perhatian.
Ditambah dengan Jung Ho-yeon yang begitu ekspresif dalam film ini.
Dengan durasi 156 menit, Hope semestinya punya ruang lapang untuk merapikan benang kusutnya.
Kenyataannya, konflik dibiarkan bergulir tanpa juntrungan, malah menambah tumpukan misteri tanpa niat memberi kepastian hingga menit akhir.
Pilihan ini membuat paruh kedua terasa bertele-tele dan berujung pada penyelesaian cerita yang tidak memuaskan, bahkan terkesan konyol.
Pada akhirnya, Na Hong-jin tampaknya mengambil langkah nekat dengan membiarkan narasi utamanya berlubang demi menggelar karpet merah untuk proyek sekuel yang naskahnya sudah selesai ia garap.