unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Ulasan Hope 2026: Sinematografi Memukau, Ending Dinilai Konyol
Hiburan

Ulasan Hope 2026: Sinematografi Memukau, Ending Dinilai Konyol

Ulasan Hope 2026: Sinematografi Memukau, Ending Dinilai Konyol
Ulasan Hope 2026: Sinematografi Memukau, Ending Dinilai Konyol
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Hope (2026) menjadi proyek terbesar sekaligus paling liar yang pernah digarap sutradara dan penulis naskah Na Hong-jin sejauh ini.

Keberaniannya masuk ke genre fiksi ilmiah dengan jajaran pemain kelas A menjanjikan tontonan epik, terutama sebagai proyek comeback setelah sedekade kesuksesan The Wailing.

Hope tidak semengganggu The Chaser, segelap The Yellow Sea, atau seambigu The Wailing, tetapi menyaksikannya justru melelahkan dengan cara berbeda.

Babak Pertama yang Imersif

Penceritaan film terbagi menjadi dua babak.

Sejam pertama adalah masa krusial saat karakter, termasuk penonton, dibuat buta akan ancaman yang sebenarnya sedang dihadapi warga di desa dekat perbatasan Korea Utara.

Penonton dibawa ke ancaman yang belum terlihat melalui jejak-jejak berdarah yang bukan mainan baru bagi Na Hong-jin. Rasa penasaran pun berhasil dibangun.

Kamera bergerak agresif menyapu puing-puing kota, mengikuti kepanikan kepala polisi Bum-seok (Hwang Jung-min) yang tiba di lokasi saat segalanya sudah hancur lebur.

Bersama Im Sung-ae (Jung Ho-yeon), rekan aparat yang sepintas lebih nekat padahal isi kepalanya jauh lebih jernih, mereka memacu kendaraan melintasi jalanan kacau.

Maju-mundur di antara insting untuk kabur atau justru menabrak entitas misterius tersebut.

Na Hong-jin terlihat amat menikmati proses mempermainkan ketegangan ini. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai wujud monster itu benar-benar ditampakkan lebih dari sekadar sekelebat bayangan.

Sebelum momen itu datang, penonton dipaksa kembali ke insting murni anak-anak yang ketakutan mendengar derit suara asing. Rasa ngeri dibangun pelan-pelan.

Keberhasilan babak pembuka tak lepas dari tangan dingin sinematografer Hong Kyung-pyo. Kemampuannya menangkap atmosfer sunyi dan mencekam khas Zona Demiliterisasi (DMZ) membuat 60 menit pertama terasa imersif.

📰 Update Terbaru