Banyak yang menilai, konten tersebut secara tidak langsung mereduksi penderitaan nyata masyarakat hanya sekadar menjadi "latar belakang berita buruk" yang harus dijauhkan agar pikiran tetap tenang. Padahal, bagi banyak orang, isu-isu tersebut bukanlah sekadar notifikasi di ponsel, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup, pekerjaan, dan kesehatan keluarga mereka.
Analisis 'Tone Deaf': Mengapa Publik Merasa Terluka?
Istilah tone deaf atau ketulian nada menjadi kata kunci yang paling sering muncul dalam kritik terhadap Maudy. Dalam konteks sosial, istilah ini merujuk pada ketidakpekaan seseorang terhadap suasana, perasaan, atau realitas sulit yang sedang dihadapi oleh orang banyak.
Seorang warganet dengan akun @fuji**e menyampaikan kritik yang representatif. Ia mengakui memahami niat awal Maudy, namun menegaskan bahwa momen penyampaiannya sangat tidak tepat.
"Di satu sisi gua paham sih maksud Maudy, cuman enggak pada tempatnya. Di situasi kayak sekarang, hal kayak gini tuh sesuatu yang semestinya dia keep buat dirinya sendiri, bukan di-upload di platform publik. Kalau emang enggak bisa speak up (menyuarakan isu), mending diam," tulisnya dengan nada kecewa.
Puncak kritik semakin memanas ketika warganet menyoroti visual dalam video tersebut. Maudy terlihat dengan santai dan nyaman menyiapkan makanan sehat (healthy and fancy food) di dapurnya yang estetis. Kontras ini dinilai sangat menusuk hati, terutama jika dibandingkan dengan kondisi saudara-saudara sebangsa di wilayah seperti Kalimantan.
"Mana dia upload konten ini sambil prepare makan healthy dan fancy lagi, meanwhile saat ini banyak orang di Kalimantan yang lagi struggling. BBM langka, listrik mati-nyala, karhutla di mana-mana. Yang jangankan nyaman buat makan, untuk bernapas saja susah," tambah akun tersebut dengan emosi yang terpancing.