unique visitors counter
⌂ Beranda News Polemik Mindfulness Maudy Ayunda: Antara Privilege, Kesehatan Mental, dan Tuntutan Netizen agar Publik Figur 'Napak Tanah'
News

Polemik Mindfulness Maudy Ayunda: Antara Privilege, Kesehatan Mental, dan Tuntutan Netizen agar Publik Figur 'Napak Tanah'

Polemik Mindfulness Maudy Ayunda: Antara Privilege, Kesehatan Mental, dan Tuntutan Netizen agar Publik Figur 'Napak Tanah'
Maudy • Instagram
A A Ukuran Teks16px
IN ARTICLE 1

Kritik senada juga datang dari akun @IOS_GrWf yang menyoroti posisi privilese Maudy. "Maudy Ayunda is unaffected by the government's foolish policies. Meanwhile, the lower class is completely crippled as their living conditions continue to deteriorate," demikian cuitan yang mendapat ribuan likes tersebut.

Lebih jauh, akun @at*****angs4 mempertanyakan batas etika dalam membungkus tragedi nasional sebagai pengganggu ketenangan pikiran. "Jadi menurut Maudy Ayunda, bayi meninggal karena asap karhutla, siswa meninggal akibat dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), sampai hutan yang rusak dan dibakar itu cuma sekadar 'berita yang mengganggu mindfulness'? Tone deaf level final boss," kritik pedas tersebut menggambarkan kedalaman kekecewaan publik.


Permintaan Maaf dan Refleksi atas Privilege

Merespons badai kritik yang tak kunjung reda, Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui adanya blind spot dalam penyampaian pesannya.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," ujar Maudy dalam pernyataan maafnya.

Pernyataan ini secara tidak langsung membuka diskusi penting tentang "privilege" atau hak istimewa. Kemampuan untuk mematikan ponsel, menarik napas panjang, dan memilih untuk tidak memikirkan krisis adalah sebuah kemewahan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang yang hidupnya tidak terdampak secara langsung oleh krisis tersebut. Pengakuan ini menjadi momen reflektif bagi seluruh publik figur tentang pentingnya membaca ruang dan waktu sebelum menyuarakan isu personal di panggung publik.

📰 Update Terbaru