Sinyal tersebut membuat Wall Street bergerak naik-turun.
Saham awalnya mempertahankan kenaikan setelah pengumuman The Fed pada Rabu, lalu turun tajam sebelum memulihkan sebagian kerugian menjelang penutupan.
Di sisi positif, peralihan ke suku bunga lebih tinggi membangun keyakinan bahwa The Fed berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Pertanyaan sempat muncul pada musim panas tentang apakah The Fed akan merasakan tekanan dari Presiden Donald Trump yang menyerukan suku bunga lebih rendah.
Biaya jangka pendek bagi ekonomi bisa sepadan jika inflasi akhirnya terkendali setelah bertahun-tahun terlalu tinggi.
Di sisi negatif, suku bunga yang lebih tinggi menekan harga saham dan investasi lain.
Ketika investor memperoleh bunga lebih besar dari obligasi yang dianggap lebih aman, mereka kurang bersedia membayar harga tinggi untuk jenis investasi lain.
Dampak itu melampaui efek perlambatan ekonomi yang diharapkan mampu menghilangkan pemicu inflasi.
Sejumlah laporan pada Kamis menunjukkan ekonomi AS mungkin cukup kuat untuk menahan suku bunga yang lebih tinggi.
Satu laporan menyebut lebih sedikit pekerja AS yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu.
Laporan lain menyebut pertumbuhan manufaktur di kawasan Atlantik tengah lebih kuat dari perkiraan ekonom.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu mengatakan ekonomi yang menguat menjadi salah satu alasan pejabat The Fed menaikkan suku bunga setelah menahannya awal tahun ini.
Ia juga menyebut geopolitik dan ancaman kenaikan harga yang ditimbulkannya dapat merembet dan mendorong inflasi di tempat lain.
Itu kemungkinan merujuk pada perang dengan Iran dan dampaknya terhadap harga minyak.
Di Wall Street, saham industri kecerdasan buatan terus rebound setelah penurunan global pada Senin.