Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) berjalan jauh lebih cepat dibandingkan siklus penyusunan kebijakan. Teknologi yang hari ini dianggap baru bisa berubah drastis dalam hitungan tahun.
Kondisi itu membuat pemerintah memilih horizon jangka pendek untuk Peta Jalan AI Nasional, yakni 2026-2029.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan, rentang waktu tersebut dipilih agar kebijakan masih bisa dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.
Menurut Nezar, membuat kebijakan untuk sepuluh tahun ke depan berisiko membuat pemerintah sulit merespons perubahan AI yang berlangsung cepat.
"Perkembangan AI begitu cepat, pengembangan AI begitu mengejutkan sehingga kalau kita patok sampai dengan 10 tahun ke depan, mungkin kita tidak bisa melakukan perubahan-perubahan dengan cepat dalam soal regulasi," ujar Nezar.
AI Generatif dan Konsekuensi yang Sulit Diprediksi
Nezar menilai AI generatif menjadi contoh paling jelas dari percepatan itu. Teknologi ini berkembang dari sekadar menghasilkan teks menjadi mampu membuat gambar, suara, video, hingga mendukung pengambilan keputusan.
Perkembangannya juga membawa konsekuensi yang tidak seluruhnya mudah diperkirakan sejak awal.
"Tidak pernah terbayangkan generatif AI itu sedahsyat ini dan memberikan banyak konsekuensi-konsekuensi yang tidak terduga, tidak terbayangkan, termasuk oleh pengembangnya sendiri," ungkapnya.
Karena itu, pemerintah menilai regulasi AI perlu memiliki ruang untuk beradaptasi. Aturan tidak cukup hanya menjawab teknologi yang sudah tersedia saat ini.
Regulasi juga harus mampu mengikuti kemunculan kemampuan dan risiko baru.
Peta Jalan AI 2026-2029 sebagai Instrumen Adaptasi
Pemerintah saat ini menyiapkan Peta Jalan AI Nasional 2026-2029 bersama regulasi mengenai etika AI. Keduanya diarahkan menjadi bagian dari kerangka tata kelola AI di Indonesia.
Komdigi sebelumnya menjelaskan bahwa kedua rancangan Peraturan Presiden tersebut telah melalui pembahasan lintas kementerian dan lembaga.
Kerangka itu diarahkan untuk membangun ekosistem AI yang etis, aman, inklusif, dan bertanggung jawab.
Nezar mengatakan Peta Jalan AI Nasional dan regulasi etika AI menjadi instrumen penting untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab.
