Perhatikan dengan saksama, Allah tidak pernah berfirman, "Berbahagialah orang-orang yang tidak pernah diuji." Justru, kabar gembira (basyir) secara khusus dialamatkan kepada ash-shabirin (orang-orang yang sabar). Ini menunjukkan bahwa ujian bukanlah tanda murka, melainkan sebuah proses penyucian. Seperti emas yang harus dibakar untuk memisahkan kotoran dari logam murninya, jiwa manusia pun ditempa melalui ujian agar semakin bersih dan dekat dengan Tuhannya.
Rasulullah SAW pun memberikan jaminan yang luar biasa melalui sabdanya: "Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim).
Mendefinisikan Ulang Makna Sabar: Boleh Sedih, Tapi Tidak Boleh Putus Asa
Ada kesalahpahaman umum di masyarakat bahwa orang yang sabar adalah mereka yang tidak boleh menangis, tidak boleh mengeluh, dan harus selalu terlihat tegar seolah tidak memiliki perasaan. Ini adalah definisi sabar yang keliru dan tidak manusiawi.
Sejarah para Nabi memberikan teladan yang sangat emosional dan mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menangis hingga matanya memutih karena kehilangan putranya, Nabi Yusuf. Rasulullah SAW pun meneteskan air mata tulus saat kehilangan istri tercinta, Khadijah RA, dan paman yang sangat beliau cintai, Hamzah RA.
Jadi, apa yang membedakan kesabaran dengan keputusasaan? Jawabannya terletak pada kondisi hati. Sabar bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap meyakini bahwa di balik rasa sakit itu, ada rahmat Allah yang sedang bekerja. Sabar adalah terus berusaha (ikhtiar), terus berdoa, namun hati tetap tenang karena yakin bahwa Allah adalah Arhamur Rahimin (Yang Maha Penyayang di antara para penyayang).