Allah tidak mengatakan, "Berbahagialah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan ujian." Allah justru berfirman: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ("Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar").
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ujian tidak selalu berarti Allah sedang murka kepada kita. Terkadang, musibah menjadi sarana Allah menghapus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita. Rasulullah saw. bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, ketika mendapatkan ujian, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi, melalui ujian itulah Allah sedang menghapus dosa, mengangkat derajat, atau mengembalikan hati kita kepada-Nya. Karena itu, jangan hanya bertanya, "Mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku?" Namun, belajarlah bertanya, "Apa yang Allah kehendaki agar aku pelajari melalui ujian dalam hidup ini?"
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sabar bukan berarti seseorang tidak boleh menangis atau merasa sedih. Sabar juga bukan berarti berhenti berusaha. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam menangis karena kehilangan putranya. Nabi Ayyub ‘alaihissalam mengadukan penderitaannya kepada Allah. Rasulullah saw. pun pernah menangis ketika kehilangan orang yang beliau cintai.
Yang menjadi ukuran bukanlah ada atau tidaknya rasa sedih, tetapi bagaimana seseorang menjaga hatinya agar tetap percaya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Nabi Ayyub ‘alaihissalam menghadapi ujian yang berat. Allah berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.'" (QS. Al-Anbiya: 83).