Hal itu dilakukan setelah pihak venue mengancam akan membatalkan konser jika sang rapper tetap tampil.
Pencoretan ini memicu reaksi keras dari Macklemore yang mengkritik pendekatan netral sahabatnya Ed Sheeran.
"Tidak ada posisi netral di antara penindas dan yang tertindas," tegas Macklemore.
Ia juga menyebut bahwa keputusan tersebut turut ditekan oleh pemilik Gillette Stadium Robert Kraft.
Di sisi lain, Kraft membela keputusannya dengan menyatakan bahwa retorika Macklemore telah melampaui batas dan menyakitkan bagi komunitas Yahudi.
Ed Sheeran akhirnya angkat bicara untuk meluruskan fakta pada Selasa (15/9).
Pelantun "Shape of You" itu menjelaskan bahwa keputusan pihak venue dan promotor sudah final.
"Saya menghormati tekad kuat Macklemore untuk bersuara dan memperjuangkan apa yang ia yakini," ucap Ed Sheeran.
Namun, ia memilih jalur diplomasi untuk menjaga agar ruang konsernya tetap aman.
Kendati demikian, langkah Ed Sheeran dan pihak stadion justru memicu aksi boikot susulan dari para musisi pendukung.
Dalam hitungan jam setelah pernyataan itu, sejumlah musisi, yakni Aaron Rowe, Finneas, Lukas Graham, hingga band Beoga kompak menyatakan mundur dari sisa tur Loop.
Finneas menulis "Saya mendukung Palestina dan rakyatnya."
Sementara itu, Lukas Graham menegaskan, "Kita seharusnya bisa berbicara tentang perang, tentang warga sipil yang tewas, tentang anak-anak yang berhak tumbuh dewasa."
Merespons polemik yang kian melebar, Macklemore mengumumkan ia mendonasikan seluruh penghasilan turnya sebesar US$1 juta atau setara Rp17,81 miliar kepada organisasi kemanusiaan untuk warga Palestina pada Rabu (16/9).
Selain itu, ia juga menantang Robert Kraft untuk menyamai donasi tersebut.
Tidak lama kemudian, Kraft mengonfirmasi bahwa Ed Sheeran telah menghubunginya untuk bersama-sama berkomitmen menyumbangkan total US$2 juta atau senilai Rp35,62 miliar untuk mengatasi krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.