Jalan pengabdian almarhum tidak dimulai dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari ruang kelas yang sederhana. Ia mengawali kariernya sebagai guru di SMEA Negeri Kutacane pada periode 1995 hingga 2001. Di sanalah, benih-benih kesabaran, empati, dan kemampuan mendengarkan orang lain pertama kali ia asah. Dari dunia pendidikan, ia kemudian melanjutkan pengabdiannya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, mengabdi di Dinas Pendidikan dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Takdir kemudian menuntunnya pada panggilan yang lebih besar: dunia kebencanaan. Ia pernah memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh, sebuah pengalaman yang memberinya pemahaman mendalam tentang luka dan harapan masyarakat di garis depan bencana.
Menapaki Tangga Kepemimpinan di BNPB: Lebih dari Sekadar Jabatan
Rekam jejak Jarwansah di tingkat nasional terus menanjak, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena kebutuhan bangsa akan pemimpin yang memiliki hati untuk korban. Ia memulai langkahnya di BNPB dari level kepala subdirektorat, kemudian dipercaya menjadi direktur yang menangani kedaruratan dan sumber daya darurat.
Puncak kepercayaan negara kepadanya terjadi pada 10 Juni 2021, ketika ia dilantik oleh Kepala BNPB saat itu, Letjen TNI Ganip Warsito, sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Perjalanan panjangnya melintasi beberapa era kepemimpinan BNPB, mulai dari masa Mayjen TNI (Purn.) Syamsul Maarif, Willem Rampangilei, masa-masa penuh dinamika bersama Letjen TNI Doni Monardo, hingga meneruskan estafet kepemimpinan di bawah Letjen TNI Suharyanto.
Bagi Jarwansah, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak pernah sekadar tentang menuangkan beton atau menyusun ulang bata. Ia memahami bahwa di balik keterangan "satu rumah rusak berat", ada sebuah keluarga yang kehilangan tempat berteduh dan kenangan. Di balik jembatan yang putus, ada kehidupan ekonomi yang terhambat. Dan di balik angka korban yang dingin, selalu ada nama, wajah, dan air mata yang nyata. Baginya, membangun kembali infrastruktur adalah ikhtiar suci untuk memulihkan kehidupan dan menyalakan kembali harapan yang sempat padam.