Ketangguhan dan dedikasinya terbukti nyata saat pandemi Covid-19 mendera negeri ini. Jarwansah menjadi salah satu pejabat tinggi yang memilih untuk menginap di kantor BNPB. Ia menolak untuk berjarak dari tanggung jawabnya, menunjukkan wujud nyata kepemimpinan yang melayani di garda terdepan Satuan Tugas Penanganan Covid-19.
Pulang ke Tanah Kelahiran: Pengabdian Terakhir untuk Aceh
Salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan karier almarhum terjadi pada akhir tahun 2025, ketika bencana kembali menerpa tanah kelahirannya, Aceh. Dengan tugas negara yang berat di pundaknya, Jarwansah "pulang". Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk hadir, memimpin, dan membantu menyembuhkan luka tanah yang melahirkannya.
Seorang putra Aceh terbaik kembali ke rumah, membawa serta seluruh pengalaman, jaringan, dan empati yang ia kumpulkan selama puluhan tahun mengabdi untuk Indonesia. Ia membuktikan bahwa pengabdian tertinggi adalah ketika seseorang menggunakan segala yang dimilikinya untuk membalas budi pada tanah leluhurnya.
Warisan Abadi: Monumen yang Tak Terbuat dari Batu
Hari ini, teleponnya memang tidak akan lagi menjawab. Kursinya di Graha BNPB akan terlihat kosong, dan langkah kakinya yang tegas menuju ruang rapat tidak lagi terdengar. Namun, dalam kearifan Aceh yang berakar kuat pada Islam, kematian bukanlah perjalanan menuju ketiadaan. Kematian adalah "pulang". Manusia datang membawa amanah, hidup sebentar, dan pergi meninggalkan jejak.
Maka, kita tidak sepenuhnya kehilangan Jarwansah. Ia akan tetap hidup dalam rumah-rumah korban bencana yang kembali berdiri kokoh. Ia akan hidup dalam keluarga yang menemukan kembali tempat pulang, dalam pegawai muda BNPB yang pernah belajar tentang integritas darinya, serta dalam kehidupan orang-orang yang mungkin tidak pernah mengenal wajahnya, tetapi pernah merasakan manfaat dari kerja kerasnya.