Detik-Detik Mencekam di Langit Tahuna: Ikatan Persahabatan yang Tak Terputus
Salah satu kisah yang paling melekat erat dalam ingatan para sahabatnya, termasuk jurnalis senior Egy Massadiah, adalah perjalanan dinas pada 6 Januari 2020. Saat itu, mereka mendampingi Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo untuk meninjau lokasi bencana di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Setelah meninjau lokasi, rombongan bersiap kembali ke Manado menggunakan helikopter. Ada sembilan orang di dalam pesawat tersebut. Namun, hanya dalam hitungan detik setelah lepas landas dari Lapangan Gesit, Tahuna, keadaan berubah drastis. Angin kencang menghantam badan pesawat, membuat helikopter kehilangan kestabilan dan oleng.
Dalam situasi seperti itu, manusia tiba-tiba sadar betapa tipisnya jarak antara rencana dan takdir. Namun, Allah masih memberi mereka waktu. Dengan kehati-hatian luar biasa dari pilot, helikopter berhasil mendarat darurat dengan selamat. Tidak ada korban jiwa. Mereka turun dari helikopter dengan kaki yang masih bisa menginjak bumi, meski jantung berdetak jauh lebih keras daripada suara rotor yang baru saja berhenti.
Hari itu, Doni Monardo, Jarwansah, dan Egy Massadiah seakan-akan mendapat "pinjaman kehidupan" sekali lagi. Doni Monardo telah berpulang lebih dahulu. Kini, Jarwansah menyusul. "Kami pernah jatuh bersama dari langit Tahuna. Rupanya, Tuhan hanya sedang menunda perpisahan," kenang seorang sahabat dekat almarhum dengan mata berkaca-kaca.
Filosofi "Apa yang Bisa Kita Bantu?" di Tengah Birokrasi
Di tengah mesin birokrasi yang terkadang terlalu sibuk dengan disposisi, paraf, dan jenjang kewenangan, Jarwansah memilih untuk berbicara dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dan membumi: "Apa yang bisa kita bantu?"
Kalimat pendek ini memiliki resonansi yang luar biasa. Dalam dunia kebencanaan, kalimat tersebut bisa berarti pengiriman logistik nasi hangat ke tempat pengungsian yang terisolasi, sebuah keluarga yang akhirnya mendapatkan kembali atap di atas kepala mereka, atau jalan putus yang segera tersambung. Lebih dari itu, kalimat itu adalah pesan moral bahwa negara tidak pernah meninggalkan warganya di saat paling rapuh.