Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan perannya sebagai "pacemaker" dalam mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.
Ia berjanji membantu mempercepat dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat dan Korea Utara.
Janji itu disampaikan Lee dalam pidatonya di Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Selasa.
Pernyataan ini muncul saat Presiden AS Donald Trump berupaya menghidupkan kembali diplomasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Sementara hubungan antar-Korea masih terhenti.
"Saya berharap dialog yang lama tertunda antara Korea Utara dan AS dapat segera dilanjutkan," kata Lee.
"Kami akan meletakkan dasar agar dialog ini berkembang menjadi dialog antara pihak-pihak terkait untuk mengakhiri perang di Semenanjung Korea dan beralih ke rezim perdamaian."
Kedua Korea secara teknis masih dalam keadaan perang sejak Perang Korea 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
"Untungnya, tekad Presiden Trump baru-baru ini menciptakan peluang perubahan yang sulit diperoleh," ujar Lee, merujuk pada pernyataan minat Trump untuk berdialog dengan pemimpin Korea Utara.
Lee yakin dialog tersebut dapat memberikan kerangka normalisasi hubungan antar pihak terkait dan mendorong stabilitas serta kerja sama di Asia Timur Laut.
Korea Selatan juga akan mendorong denuklirisasi Korea Utara melalui pendekatan bertahap, dimulai dari penghentian lalu pengurangan kemampuan nuklir dan rudal, hingga akhirnya mewujudkan Semenanjung Korea bebas senjata nuklir.
"Sebagai pihak langsung dalam perdamaian di Semenanjung Korea, dan sebagai pacemaker, pemerintah saya akan mengerahkan segala upaya untuk membuka dan mempertahankan jalur dialog," kata Lee.