Tiga penembak menewaskan sedikitnya 11 orang dalam serangan tengah malam di sebuah pesta rumah di Afrika Selatan, kata polisi pada Rabu.
Seorang wanita yang diduga hamil termasuk di antara korban tewas. Tiga orang lainnya mengalami luka-luka dalam penembakan pada Selasa malam di permukiman KwaMakhutha.
Lokasi kejadian berada sekitar 30 kilometer (19 mil) di selatan Kota Durban, pesisir timur Afrika Selatan.
Menurut polisi, sejumlah orang tengah berkumpul di rumah tersebut untuk berpesta ketika para tersangka masuk dan melepaskan tembakan.
Sepuluh orang, termasuk wanita yang diduga hamil, meninggal di tempat kejadian. Korban ke-11 dinyatakan meninggal di rumah sakit.
Pihak berwenang belum memberikan rincian mengenai kondisi tiga orang yang terluka.
Polisi Buru Tiga Pelaku
Polisi menyatakan tengah memburu tiga pria dan belum ada penangkapan dalam kasus ini.
Motif penembakan belum diketahui. Namun polisi menambahkan bahwa sebagian orang di rumah tersebut dikenal aparat dalam penyelidikan aktivitas kriminal.
Polisi tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai penyelidikan tersebut.
Meski motif penembakan belum dapat dipastikan, perseteruan antar kelompok saingan tidak dapat dikesampingkan, kata polisi.
Perdana Menteri Provinsi KwaZulu-Natal, Thami Ntuli, kepada wartawan di lokasi menyebut pembunuhan itu benar-benar mengganggu.
Ia mengatakan terdapat masalah yang diketahui terkait peredaran narkoba dan senjata api ilegal di komunitas yang sebagian besar miskin tersebut.
Ini merupakan insiden terbaru dalam rangkaian penembakan massal di Afrika Selatan dalam beberapa waktu terakhir.
Pada Juni, beberapa penembak menewaskan 12 orang di lingkungan miskin di Johannesburg yang dikaitkan polisi dengan geng kriminal.
Dua penembakan massal yang berjarak dua pekan pada Desember menewaskan 21 orang. Keduanya juga dilakukan oleh beberapa pria bersenjata.
Afrika Selatan memiliki tingkat kejahatan kekerasan yang sangat tinggi.
Statistik resmi kepolisian mencatat 5.427 pembunuhan pada periode tiga bulan terakhir antara April dan Juni, atau rata-rata hampir 60 pembunuhan per hari.
Penembakan merupakan bentuk pembunuhan paling umum di Afrika Selatan. Polisi dan pakar kejahatan lama menyebut salah satu masalah terbesar adalah banyaknya senjata api ilegal yang beredar.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengizinkan pengerahan tentara ke jalan di sejumlah wilayah pada awal tahun ini untuk memerangi kejahatan kekerasan.
Kritikus menilai langkah itu sebagai pengakuan bahwa polisi gagal.
Tentara dikerahkan di sekitar Johannesburg, Kota Cape Town, dan Provinsi Eastern Cape dalam operasi yang masih berlangsung, tetapi tidak ke Provinsi KwaZulu-Natal tempat penembakan terbaru terjadi.
Jenazah sebagian korban penembakan Selasa malam dibaringkan di tanah dan ditutupi kain putih di luar rumah kecil tempat kejadian.
Jenazah tersebut kemudian dibawa dengan tandu ke mobil patologi. Polisi memasang garis polisi kuning di lingkungan itu sementara penyidik forensik bekerja di lokasi.
Polisi juga menyelidiki apakah pembakaran sebuah mobil di dekat rumah tersebut berkaitan dengan penembakan.