unique visitors counter
⌂ Beranda News Imbal Hasil Treasury 5% Kian Dianggap Wajar, Pasar Mulai Waspadai Level 6%
News

Imbal Hasil Treasury 5% Kian Dianggap Wajar, Pasar Mulai Waspadai Level 6%

Gedung Departemen Keuangan Amerika Serikat di Washington sebagai simbol pasar obligasi Treasury
Imbal Hasil Treasury 5% Kian Dianggap Wajar, Pasar Mulai Waspadai Level 6%
A A Ukuran Teks16px

Artinya, "saluran suku bunga tradisional tampak jauh lebih longgar" dan ambang batas pemecah pasar saham mungkin "jauh lebih tinggi, berpotensi di kisaran 5,5%-6,0%," kata JP Morgan.

Repricing Mendalam dan Risiko Psikologis

Di pasar Treasury senilai 29 triliun dolar AS yang menjadi jangkar penetapan harga hampir semua aset keuangan, pergeseran dari 5% ke 6% akan menjadi penyesuaian mendalam pada biaya modal global.

Imbal hasil Treasury 6% menyiratkan ekspektasi inflasi yang jauh lebih tinggi, kekhawatiran soal keberlanjutan fiskal AS, keyakinan bahwa suku bunga akan tetap tinggi selama bertahun-tahun, atau campuran ketiganya.

Pejabat pembuat kebijakan Federal Reserve, Austan Goolsbee, pekan ini mengatakan ia tidak tahu apakah pasar akan bereaksi berbeda terhadap periode imbal hasil 5% yang lebih panjang dibandingkan masa lalu.

Kepala riset alokasi aset global Invesco, Paul Jackson, menyebut investor fokus pada imbal hasil Treasury karena surat utang AS adalah tolok ukur bebas risiko dunia.

Di atas 5%, investor bisa mengunci imbal hasil obligasi AS tertinggi sejak 2007.

Perhitungan Jackson menunjukkan saham dunia mulai turun ketika imbal hasil tenor 10 tahun diperdagangkan pada rata-rata 4,72% selama 12 bulan lalu naik.

Titik kritis itu masih jauh karena rata-rata 12 bulan saat ini sekitar 4,34%.

Meski begitu, Jackson mengaku sudah mengurangi porsi saham dan memindahkan sebagian dana ke obligasi pemerintah untuk memanfaatkan imbal hasil yang menarik.

"Jika imbal hasil Treasury terus naik, ada risiko pasar saham lebih rendah dalam 12 bulan ke depan," ujarnya.

Pasar negara berkembang yang menikmati tren positif beberapa tahun terakhir sering menjadi korban pertama ketika imbal hasil AS melonjak.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru