Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia resmi mengambil alih penyelidikan insiden tenggelamnya Kapal Motor Virgo Transport 8 di Laut Jawa.
Kapal tersebut mengangkut 243 orang dan 89 kendaraan. Tim SAR telah mengevakuasi 150 korban hingga Kamis (24/9/2026).
Pengalihan penanganan perkara dari Polda Kalimantan Selatan ke Mabes Polri dilakukan setelah mempertimbangkan besarnya skala dampak bencana.
Selain itu, asal muasal korban yang melintasi berbagai provinsi menjadi pertimbangan dalam pelimpahan wewenang hukum tersebut.
Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid mengonfirmasi penyerahan wewenang itu pada Kamis malam di Banjarmasin.
"Penanganan perkaranya dilimpahkan ke Mabes Polri," kata Nur Khamid.
Sebelum keputusan pelimpahan diterbitkan atas arahan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, personel Subdit Gakkum Direktorat Polairud Polda Kalsel telah menjalankan pemeriksaan awal.
Kapal yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin itu mengangkut 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, 126 sopir dan kernet, 27 mitra kerja, serta 30 awak kapal.
Tim SAR Evakuasi 150 Korban
Berdasarkan pembaruan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan per pukul 15.00 WIB, sebanyak 108 penumpang ditemukan selamat dan 42 orang meninggal dunia.
Sementara itu, 93 orang lainnya masih dalam pencarian.
Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii memaparkan rincian angka evakuasi tersebut usai menghadiri agenda rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Jakarta.
"Hari ini, alhamdulillah, kita sudah bisa mengevakuasi 150 korban. Dari 150 korban ini, 108 selamat, kemudian 42 dalam kondisi meninggal dunia.
Sehingga kalau kita mengacu kepada manifes, ada 93 yang masih dalam pencarian," ujar Syafii.
Proses pencarian dan penyelaman di area bangkai kapal berukuran panjang 119 meter, lebar 21 meter, dan tinggi 17 meter tersebut menghadapi kendala arus laut serta risiko ketidakstabilan konstruksi fisik kapal.
"Ya, kira-kira saya tadi masih pada saat rapat tadi, kira-kira jam 15.00, ya, jadi ya mudah-mudahan kondisi cuaca khususnya arus bagus sehingga teman-teman penyelam, khususnya dari Basarnas bisa melaksanakan pencarian dan bisa evakuasi korban.
Karena kita yakini di dalam masih banyak korban, ya, mohon doanya saja ya," jelas Syafii.
Basarnas memperkirakan sejumlah penumpang masih terjebak di dalam sekat-sekat dan ruangan kapal penumpang tersebut.
"Kalau kemungkinan pasti (ada korban di kamar). Segala kemungkinan bisa terjadi.
Soal tertumpuk atau tidak, yang jelas kondisi korban kan ada di kamar-kamar, kemudian ada di mungkin ruangan-ruangan," jelas Syafii.
Syafii menegaskan bahwa ukuran kapal yang besar memungkinkan adanya penumpukan korban di titik-titik tertentu yang belum terjangkau.
"Itu memang kapal penumpang sehingga memungkinkan ada di mana-mana.
Panjangnya kapal sendiri 119, lebarnya ada 21 meter, kemudian tingginya juga 17 meter lebih, sehingga memungkinkan adanya korban-korban yang masih terjebak dalam sekat-sekat tertentu," imbuh Syafii.
Upaya pemotongan atau pembongkaran bagian bangkai kapal berpotensi memicu bahaya keselamatan bagi tim penyelam di lapangan.
"Kalau di bawah, begitu ada gerakan-gerakan yang kita lakukan terkait pembongkaran atau apa pun, itu akan menimbulkan satu ketidakstabilan di badan kapal.
Ini sangat berisiko," ungkap tim SAR dalam laporan tertulis.
Operasi pencarian dan penyelamatan gabungan terus dilanjutkan untuk menyisir sisa korban yang belum ditemukan.
