Starbucks berencana menutup 250 gerai di Amerika Utara pada pekan ini.
Penutupan tersebut menjadi gelombang besar kedua di bawah kepemimpinan Chairman dan CEO Brian Niccol yang bergabung pada 2024.
Pada September lalu, Starbucks menutup 627 gerai di Amerika Utara dan Eropa. Perusahaan belum mengumumkan lokasi spesifik maupun jumlah gerai yang berada di Amerika Serikat.
Dalam surat kepada karyawan, Chief Operating Officer Mike Grams menyatakan gerai yang ditutup tidak memberikan hasil keuangan yang memadai atau tidak dapat menghadirkan pengalaman yang diinginkan Starbucks bagi pelanggan dan karyawan.
Dampak bagi Pekerja dan Serikat
Starbucks Workers United, serikat yang mewakili pekerja di 700 gerai milik perusahaan yang telah memilih berserikat, menyebut 20 gerai berstatus serikat termasuk dalam 250 gerai yang ditutup.
Jumlah itu setara 8 persen dari total penutupan.
Pekerja Starbucks telah melakukan pemungutan suara untuk berserikat sejak akhir 2021. Namun, serikat dan perusahaan belum mencapai kesepakatan kerja.
Starbucks Workers United menyatakan akan mengirim permintaan informasi resmi kepada Starbucks terkait rencana penutupan. Serikat juga akan terlibat dalam perundingan di setiap gerai yang berserikat.
Starbucks menyatakan akan memindahkan karyawan ke gerai lain jika memungkinkan. Jika tidak, perusahaan akan memberikan dukungan pesangon.
Renovasi dan Rencana Pertumbuhan
Grams menyebut Starbucks terus merenovasi gerai di Amerika Utara agar lebih nyaman dan menarik.
Perusahaan memperkirakan 1.500 gerai akan direnovasi hingga 30 September, bertepatan dengan akhir tahun fiskal Starbucks.
Menurut Grams, kemajuan renovasi memberikan gambaran lebih jelas tentang kinerja setiap gerai. Sebagian besar gerai meraih manfaat dari momentum tersebut, tetapi beberapa gerai tetap berkinerja di bawah ekspektasi.
Grams menegaskan Starbucks masih berkomitmen menambah jumlah gerai di Amerika Utara. Pada akhir Juni, perusahaan memiliki 18.371 gerai di kawasan tersebut.
Starbucks juga memangkas jumlah karyawan korporat. Perusahaan memberhentikan 900 karyawan nonritel saat menutup gerai pada September lalu.
Pada Mei, Starbucks kembali memberhentikan 300 karyawan korporat dan menutup beberapa kantor di Amerika Serikat yang kurang dimanfaatkan.
Perusahaan memperkirakan biaya restrukturisasi sebesar 300 juta dolar AS dari penutupan gelombang ini.
Rinciannya mencakup 200 juta dolar AS biaya tunai untuk keluar dari sewa dan membayar pesangon karyawan, serta 100 juta dolar AS biaya non-tunai akibat pelepasan dan penurunan nilai aset gerai.
Saham Starbucks turun kurang dari 1 persen pada perdagangan Kamis sore.
