unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, Biaya Restrukturisasi Rp 5,37 Triliun
News

Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, Biaya Restrukturisasi Rp 5,37 Triliun

Ilustrasi gerai Starbucks yang akan ditutup di Amerika Utara
Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, Biaya Restrukturisasi Rp 5,37 Triliun
A A Ukuran Teks16px

Starbucks berencana menutup sekitar 250 gerai yang berkinerja buruk di Amerika Utara dalam beberapa hari mendatang.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemulihan bisnis perusahaan kedai kopi global tersebut.

Jumlah gerai yang terdampak mencakup sekitar 1 persen dari total 18.000 lokasi Starbucks di kawasan Amerika Utara.

Penutupan ini menjadi langkah kedua perusahaan dalam memangkas jumlah operasional kedainya di wilayah tersebut.

Alasan Penutupan dan Dampak Finansial

Manajemen menjelaskan bahwa gerai yang terdampak tidak memberikan pengalaman yang diinginkan bagi pelanggan dan mitra atau tidak layak secara finansial.

Akibat efisiensi ini, Starbucks diperkirakan menanggung biaya restrukturisasi mencapai US$ 300 juta atau sekitar Rp 5,37 triliun berdasarkan laporan regulasi.

Beban tersebut mencakup biaya pengakhiran sewa tempat lebih awal sebesar US$ 200 juta serta penyediaan pesangon bagi karyawan.

Daftar lengkap lokasi kedai yang akan dihentikan operasinya belum dirilis secara resmi.

Namun, pengumuman tertulis akan dipasang di lokasi terdampak pada akhir pekan ini dan data pada aplikasi seluler akan langsung diperbarui.

Chief Operating Officer Starbucks, Mike Grams, menyatakan perusahaan tetap antusias dengan peluang pertumbuhan jangka panjang yang signifikan di Amerika Utara.

Meskipun menutup ratusan lokasi, manajemen memastikan ekspansi tetap berjalan dengan membuka kedai baru di area yang lebih strategis.

Target pembukaan gerai baru secara global pada tahun fiskal ini dipangkas menjadi 440 lokasi dari target awal 600 hingga 650 lokasi.

Langkah serupa sebelumnya telah dieksekusi CEO Starbucks Brian Niccol pada tahun lalu yang diiringi pemutusan hubungan kerja dalam paket restrukturisasi senilai US$ 1 miliar.

Selama dua tahun masa jabatannya, perombakan bisnis terus dilakukan melalui renovasi gerai, peningkatan kualitas layanan, dan penyederhanaan menu.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru