Jeju Island semakin serius menjadikan diri sebagai destinasi ramah hewan peliharaan bagi wisatawan mancanegara.
Otoritas pariwisata setempat menilai tren pet humanization, yang memperlakukan hewan peliharaan sebagai bagian penuh keluarga, membuka peluang pertumbuhan baru.
Provinsi Otonom Khusus Jeju dan Jeju Tourism Organization pun memposisikan pulau resor itu sebagai tempat liburan ramah hewan bagi turis asing.
Strategi utama diarahkan ke Jepang, pasar terdekat yang menunjukkan pergeseran perilaku jelas.
Survei Cross Marketing Inc. yang berbasis di Tokyo menemukan lebih dari separuh pemilik hewan berusia 20-an dan 30-an kini mengajak hewan mereka dalam kegiatan sosial dan perjalanan wisata.
Kondisi itu mendorong permintaan layanan perhotelan yang menerima hewan peliharaan.
Namun, perjalanan internasional bersama hewan dikenal rumit karena protokol karantina ketat, aturan impor pakan, pengaturan transportasi, dan ketidakpastian soal akomodasi.
Untuk mengurangi hambatan itu, Jeju menghabiskan lebih dari satu tahun memperbaiki infrastruktur pendukungnya.
Setelah tur pengenalan bersama pelaku industri Jepang pada musim semi lalu, pejabat lokal menyusun sistem dukungan menyeluruh.
Sistem itu mencakup verifikasi vaksinasi, penyederhanaan prosedur karantina, dan akses cepat ke rumah sakit hewan di pulau untuk kebutuhan medis mendadak.
Dengan menangani kekhawatiran logistik tersebut, Jeju berupaya mengubah liburan yang sebelumnya dianggap berisiko tinggi menjadi perjalanan yang lebih mulus bagi wisatawan Jepang.
Promosi Langsung di Osaka
Langkah konkret dimulai melalui paviliun promosi bertema Pet-Friendly Jeju di sebuah pameran hewan peliharaan tiga hari di Osaka, Jepang, pekan lalu.
Paviliun itu menampilkan acara budaya interaktif, termasuk pengalaman mengenakan hanbok untuk anjing.
Pengunjung juga mendapat panduan langkah demi langkah untuk perjalanan bersama hewan ke pulau tersebut.
Mereka dapat meninjau itinerary rinci yang mencakup resor ramah hewan, jalur jalan kaki indah, dan klinik hewan lokal bersertifikat.
Alih-alih mengandalkan iklan regional yang luas, strategi pariwisata pulau ini menekankan pemasaran langsung dan presisi.
Tujuannya memberikan informasi yang jelas dan bisa langsung ditindaklanjuti kepada calon pengunjung.
Wawasan dan umpan balik dari acara Osaka akan diintegrasikan ke dalam kampanye promosi khusus paket perjalanan hewan Jeju.
Kampanye itu dijadwalkan diluncurkan pada akhir Oktober, menjelang tur komersial skala penuh pada tahun berikutnya.
Hwang Kyoung-sun, Direktur Jenderal Biro Pariwisata dan Kebudayaan Jeju, menegaskan pentingnya kejelasan prosedur karantina dan kondisi lokal.
Menurutnya, panduan tatap muka menjadi strategi paling efektif untuk wisatawan yang membawa hewan.
Melalui pemasaran bertarget yang menemui calon wisatawan secara langsung, Jeju ingin menanamkan identitasnya sebagai destinasi utama ramah hewan di pasar Jepang.