Pemerintah Amerika Serikat dan China menyepakati pembentukan forum dialog khusus kecerdasan buatan serta saluran komunikasi darurat untuk meredam krisis teknologi tersebut.
Kesepakatan itu tertuang dalam lembar fakta Gedung Putih pada Jumat (25/9/2026) malam, setelah Presiden AS Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Amerika Serikat.
Kedua negara juga sepakat memakai istilah super intelligence (SI) untuk menggantikan artificial intelligence.
Trump menilai istilah lama bermakna negatif. "Pemakaian kata artificial membuatnya terdengar palsu.
Padahal ini tidak palsu. Ini justru luar biasa," kata Trump.
Forum dan Hotline Krisis SI
Forum bernama U. S.
-China Super Intelligence (SI) Dialogue ini dirancang membahas risiko dan manfaat teknologi tersebut.
Pertemuan lanjutan antarkedua pihak dijadwalkan berlangsung paling lambat November 2026.
Selain forum dialog, disepakati pula pembuatan hotline komunikasi bilateral untuk menangani insiden SI secara langsung.
Langkah ini diusulkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent saat bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York pada Minggu (20/9/2026).
Meski saluran krisis disetujui, KTT ini tidak menghasilkan rincian kebijakan baru terkait pengembangan SI dan pembahasan antarpemimpin berlangsung singkat.
Trump menyatakan kesepakatan ini tidak akan memperlambat pengembangan teknologi di negaranya dan menolak integrasi teknologi dengan China.
Sementara itu, Beijing menilai hasil pertemuan tingkat tinggi tersebut berdampak positif bagi stabilitas hubungan kedua negara adidaya.
Menteri Luar Negeri Wang Yi menyebut kunjungan Xi telah menjaga stabilitas hubungan China-AS secara keseluruhan, serta berdampak besar bagi perdamaian dan pembangunan dunia.
Perubahan istilah menjadi super intelligence menuai sorotan akademisi. Pakar menilai istilah itu bermakna kecerdasan jauh di atas manusia yang dapat memicu rasa cemas masyarakat luas.
Di luar isu SI, AS dan China turut menandatangani kesepakatan kerja sama militer untuk mencegah krisis armada.
Keduanya juga memberi keringanan tarif perdagangan non-sensitif senilai 30 miliar dollar AS di masing-masing pihak.
