Perbandingan efisiensi antara mobil listrik dan mobil bensin semakin relevan bagi konsumen yang memakai kendaraan setiap hari.
Sebuah simulasi membandingkan Geely EX2 sebagai perwakilan mobil listrik dengan Honda Brio Satya yang berada di kelas Low Cost Green Car (LCGC).
Simulasi ini menggunakan asumsi perjalanan sekitar 60 kilometer per hari dengan rute kombinasi.
Hasilnya, kedua model tergolong irit, tetapi sumber energi dan pengeluaran biayanya berbeda jauh.
Performa dan Pengisian Daya Geely EX2
Geely EX2 dibekali baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas 40,8 kWh.
Baterai tersebut menjanjikan jarak tempuh hingga 395 kilometer berdasarkan metode pengujian NEDC.
Dapur pacunya mengandalkan motor listrik berdaya 85 kW atau sekitar 114 PS dengan torsi maksimum 150 Nm.
Pada pengujian rute kombinasi sejauh 60 km, layar Multi Information Display (MID) EX2 menunjukkan efisiensi 10,7 km/kWh.
Artinya, perjalanan harian 60 km membutuhkan energi sekitar 5,61 kWh.
Jika pengisian daya dilakukan di rumah dengan tarif listrik pengisian mandiri sekitar Rp 1.444 per kWh, biaya energi untuk 60 km hanya sekitar Rp 8.100 per hari.
Dalam akumulasi 30 hari penggunaan konsisten 60 km per hari, total energi yang dibutuhkan mencapai 168,2 kWh dengan estimasi biaya listrik harian Rp 242.900 per bulan.
Skenario berubah jika seluruh pengisian daya dilakukan melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Dengan asumsi tarif Rp 2.400 hingga Rp 2.500 per kWh, biaya operasional harian menempuh 60 km membengkak menjadi Rp 13.500 sampai Rp 14.000 per hari.
Dalam kurun waktu 30 hari, pengeluaran pengisian daya di SPKLU berkisar antara Rp 403.700 hingga Rp 420.600.
Konsumsi Bahan Bakar Honda Brio Satya
Di sisi lain, Honda Brio Satya mengandalkan mesin bensin 1.200 cc yang menghasilkan tenaga 90 TK dan torsi 110 Nm.
Karakter utamanya dirancang ringan dan efisien untuk penggunaan harian di kawasan perkotaan.
Konsumsi bahan bakar Brio Satya bervariasi, berada di kisaran 16 km per liter hingga 20 km per liter, menjadikannya salah satu mobil bensin paling hemat di kelasnya.
Menggunakan asumsi jarak tempuh yang sama, yaitu 60 km per hari, hitung-hitungan konsumsi bahan bakarnya cukup transparan.
Pada tingkat efisiensi 16 km per liter, Brio membutuhkan sekitar 3,75 liter bensin per hari.
Jika dikalkulasikan selama 30 hari, total konsumsi BBM mencapai 112,5 liter per bulan.
Apabila diisi BBM jenis Pertalite seharga Rp 10.000 per liter, biaya bahan bakar menyentuh angka Rp 1,125 juta per bulan.
Jika menggunakan Pertamax seharga Rp 15.950 per liter, pengeluaran melonjak hingga Rp 1,79 juta per bulan.
Namun, jika mobil mampu mencapai tingkat efisiensi terbaiknya di angka 20 km per liter, konsumsi BBM bulanan berkurang menjadi 90 liter per bulan.
Pengeluaran dengan Pertalite dapat ditekan menjadi sekitar Rp 900.000 per bulan, sementara dengan Pertamax menjadi Rp 1,44 juta per bulan.
Ketika disandingkan pada jarak tempuh 60 km setiap hari selama satu bulan penuh, terlihat perbedaan angka yang cukup signifikan antara kedua jenis kendaraan ini.
Geely EX2 memerlukan sekitar 168,2 kWh listrik per bulan.
Pengisian di rumah membutuhkan biaya sekitar Rp 242.900 per bulan, sedangkan jika mengandalkan SPKLU berada di rentang Rp 403.700 hingga Rp 420.600 per bulan.
Sementara Honda Brio Satya mengonsumsi 90 hingga 112,5 liter bensin per bulan.
Opsi penggunaan Pertalite memakan biaya Rp 900.000 hingga Rp 1,125 juta, sedangkan penggunaan Pertamax menghabiskan biaya antara Rp 1,44 juta sampai Rp 1,79 juta per bulan.
Perlu dicatat bahwa kalkulasi ini hanya mencakup biaya energi atau bahan bakar murni.
Angka tersebut belum memperhitungkan biaya pemeliharaan berkala, pajak kendaraan, penggantian ban, maupun komponen kepemilikan lainnya.
Konsumsi riil di lapangan juga sangat bergantung pada kondisi lalu lintas, gaya mengemudi, bobot muatan, penggunaan pendingin udara (AC), hingga kondisi permukaan jalan.
Dari kalkulasi tersebut, Geely EX2 unggul secara mutlak dalam menekan biaya energi operasional harian, terutama jika pengisian daya dilakukan di rumah.
Namun, aspek efisiensi biaya bukan satu-satunya pertimbangan dalam memilih kendaraan.
Penggunaan mobil listrik menuntut pengemudi lebih memperhatikan sisa daya baterai dan ketersediaan infrastruktur pengisian di sepanjang rute, terutama saat bepergian jarak jauh untuk menghindari kecemasan kehabisan daya (range anxiety).
Sebaliknya, Brio Satya menawarkan fleksibilitas yang lebih praktis.
Keberadaan SPBU yang tersebar luas memungkinkan pengemudi mengisi bahan bakar dalam waktu singkat tanpa perlu perencanaan rute yang rumit.