unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Profesor Biao Xiang, Idola Baru Generasi Z China yang Bicara Kecemasan Hidup
News

Profesor Biao Xiang, Idola Baru Generasi Z China yang Bicara Kecemasan Hidup

Profesor Biao Xiang, antropolog yang menjadi idola generasi Z China
Profesor Biao Xiang, Idola Baru Generasi Z China yang Bicara Kecemasan Hidup
A A Ukuran Teks16px

Profesor Biao Xiang, antropolog berusia 54 tahun, menjadi sosok yang dikagumi generasi Z di China.

Popularitasnya bahkan mampu menarik ratusan orang dari diaspora China dalam sebuah acara di Singapura.

Berbeda dari idola umumnya yang berasal dari dunia hiburan, Xiang dikenal karena pemikirannya tentang kecemasan hidup dan cara menghadapinya.

Ia menyoroti keresahan kaum muda di tengah perubahan pesat ekonomi dan teknologi China.

Seorang lulusan China berusia 23 tahun mengatakan, "Orang-orang membutuhkan jangkar dalam hidup mereka. Dan kata-katanya membuat kami merasa ada seseorang yang memahami kami."

Pernyataan itu mencerminkan ketidakpastian yang dihadapi saat transisi dari pendidikan ke dunia kerja.

Pencarian Makna di Tengah Kompetisi

Dalam pidatonya di Singapura, Xiang menyoroti bagaimana kaum muda mencari pengakuan dari sistem yang kompetitif. Namun, hal itu sering kali melelahkan dan merusak harga diri.

Ia menyarankan agar mereka lebih mencari makna dan pemahaman melalui interaksi dengan orang lain. Tujuannya untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Xiang menggambarkan masyarakat China saat ini berada di "titik balik" karena perubahan sosial dan ekonomi yang cepat.

Ia melihat generasi muda mengalami kontradiksi antara kekuatan negara dan ketidakpastian masa depan.

Fenomena "floating" atau mengapung dipakai Xiang untuk menggambarkan orang yang bekerja terus-menerus hanya untuk bertahan hidup. Ia menganalogikannya seperti burung kolibri yang tak pernah berhenti mengepakkan sayap.

Ketidakpastian ekonomi diperparah oleh tingginya pengangguran kaum muda yang mencapai 21,3% sebelum data tersebut tidak lagi dipublikasikan pemerintah pada pertengahan 2023.

Tekanan tambahan datang dari budaya kerja yang melelahkan dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan.

Kecemasan ini terwujud dalam perdebatan daring mengenai berbagai isu seperti ujian masuk universitas dan keamanan pangan. Sensor pemerintah membatasi ruang ekspresi secara langsung.

Istilah populer seperti "lying flat" yang menggambarkan sikap mundur dari persaingan ketat dan "involusi" yang merujuk pada persaingan dengan sedikit hasil menjadi simbol perasaan masyarakat muda China saat ini.

Menurut Direktur Institut Max Planck untuk Antropologi Sosial ini, pasar properti dan sistem pendidikan tinggi memperkuat kecemasan tersebut.

Ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan tanah mengaitkan keberhasilan keluarga dengan kepemilikan rumah, sementara ekspansi perguruan tinggi meningkatkan persaingan akademik.

Profesi yang stabil, gelar bagus, pernikahan, dan kepemilikan rumah menjadi standar universal yang memicu perlombaan sosial yang intens.

Popularitas Xiang yang melampaui dunia akademik membuatnya dianggap sebagai influencer yang menginspirasi banyak orang untuk berpikir mandiri.

"Jika seseorang menyebut saya sebagai influencer, saya akan menganggapnya sebagai pujian. Karena pengaruh nyata yang dapat saya berikan adalah membuat orang berpikir sendiri," katanya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru