Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari 2026 memutus jalur perdagangan Selat Hormuz.
Gangguan rute vital itu membendung ekspor minyak sekaligus menekan masuknya pasokan barang impor pokok ke Irak.
Hampir 90 persen pendapatan Irak bergantung pada ekspor minyak bumi untuk menutup biaya impor barang harian. Ketergantungan itu mencakup bahan pangan, obat-obatan, hingga material industri.
Putusnya akses pelayaran di Teluk membuat pendapatan negara terkuras parah. Kerugian minyak Irak ditaksir sekitar US$ 60 miliar atau setara Rp 1.078,68 triliun.
Harga Barang Impor Melonjak
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menegaskan negaranya tengah menghadapi tantangan ekonomi luar biasa. Penurunan drastis penerimaan sektor energi menjadi pemicu utamanya.
Hambatan logistik memaksa kapal pengangkut memutar rute. Pengiriman barang impor dari China pun molor hingga memakan waktu tiga bulan.
Kondisi pasar domestik langsung terdampak dengan menipisnya persediaan produk luar negeri di berbagai pertokoan.
Alaa-Eddin Sulaibi, pemilik supermarket di Baghdad, menyebut porsi barang impor di tokonya merosot menjadi 70 persen dari sebelumnya 90 persen.
"Kami tidak punya pilihan selain menjual produk lokal, meskipun kualitasnya tidak sama dengan produk impor," kata Alaa-Eddin Sulaibi.
Penundaan pengiriman dan pembengkakan biaya transportasi memicu lonjakan harga barang impor di tingkat pengecer hingga 25 sampai 30 persen.
Hambatan distribusi ini memperberat beban biaya hidup masyarakat Irak yang makin bergantung pada komoditas lokal.
Alaa-Eddin Sulaibi menambahkan kenaikan harga tidak hanya dipicu gangguan di Teluk.
Waktu pengiriman yang lebih lama dari China serta biaya bahan bakar dan transportasi yang lebih tinggi, khususnya untuk perdagangan dengan Turki, turut berperan.
