Perselisihan di tingkat petinggi sepak bola internasional kembali mencuat setelah Presiden UEFA Aleksander Ceferin melayangkan kritik terbuka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino.
Kritik itu dipicu oleh gagasan kontroversial FIFA yang sempat berencana melepas sebagian hak komersialnya kepada investor swasta.
Rencana tersebut akhirnya batal akibat penolakan yang meluas.
Sindiran Dongeng Pakaian Baru Sang Kaisar
Berbicara dalam Sidang Umum Klub-Klub Sepak Bola Eropa di Kopenhagen, Ceferin memakai analogi dari karya sastra legendaris karangan Hans Christian Andersen.
Dongeng klasik itu dipakai Ceferin untuk menyindir narasi yang dibangun demi mendukung proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) yang kini pengembangannya dihentikan.
Ia menyoroti penggunaan bahasa manis yang dinilainya dipakai hanya untuk menutupi kondisi sebenarnya.
Ceferin lantas mengutip bagian kisah tentang pemimpin yang terpedaya oleh pakaian imajiner untuk menggambarkan dinamika yang terjadi saat ini.
"Hampir 200 tahun yang lalu, ia menulis 'Pakaian Baru Sang Kaisar'," kata Ceferin dikutip dari Reuters, Rabu (30/9/2026).
"Kita semua tahu ceritanya.
Seorang kaisar diyakinkan bahwa ia mengenakan pakaian yang megah, pakaian yang konon hanya orang bodoh atau tidak layak yang tidak bisa melihatnya."
"Para pengikutnya pun ikut-ikutan percaya hingga seorang anak kecil dengan lugas mengatakan apa yang sebenarnya terlihat oleh semua orang.
Kaisar itu telanjang."
Gagasan awal FIFA Forward Enterprise yang dirancang Infantino berfokus pada pembentukan badan usaha di bawah naungan FIFA.
Anak perusahaan ini direncanakan mengelola hak cipta turnamen utama seperti Piala Dunia pria, Piala Dunia wanita, dan Piala Dunia Antarklub, dengan opsi penjualan saham hingga 20 persen kepada pihak swasta.
Infantino sebelumnya mengklaim skema tersebut sebagai langkah inovatif untuk menggalang dana demi perkembangan sepak bola, serta mengaku telah berkonsultasi secara demokratis bersama 211 asosiasi anggota.
Namun, Ceferin menolak klaim tersebut dan menilai berbagai jargon positif yang disampaikan hanyalah pengalihan isu.
"Mungkin hikmah dari cerita ini adalah kata-kata yang menguntungkan tidak dapat mengubah kenyataan yang tidak menyenangkan," katanya.
"Kini dunia sepak bola telah mendengar beberapa kata yang sangat menguntungkan belakangan ini. Pembangunan, demokratisasi, konsultasi, kata-kata yang sebenarnya digunakan untuk menggambarkan hal yang sebaliknya."
"Menjual sebagian masa depan sepak bola tidak lantas menjadi pembangunan hanya karena Anda menyebutnya pembangunan."
"Menyodorkan fakta yang sudah jadi di hadapan asosiasi-asosiasi nasional tidak berarti demokratisasi, meskipun Anda menyebutnya demokratisasi. Seberapa besar pun jumlah ceknya."
"Dan kerahasiaan tidak bisa disebut konsultasi hanya karena Anda menyebutnya konsultasi," lanjutnya.
Dorongan Membatasi Keputusan Sepihak
Ceferin kemudian mengajak para pengurus klub membayangkan situasi jika ada pejabat internal tim mereka yang bernegosiasi secara diam-diam untuk melepas aset penting.
Kesepakatan terselubung itu dilakukan tanpa keterlibatan dewan direksi, pemain, maupun pendukung, lalu baru terungkap saat prosesnya mendekati rampung.
"Apa yang akan dilakukan dewan direksi Anda?" ungkap pria berusia 57 tahun itu menambahkan.
Ceferin turut memberi gambaran hipotetis mengenai pihak yang membuat penghargaan khusus untuk tokoh politik, yang dilanjutkan dengan panggilan telepon guna mengubah aturan main secara sepihak.
"Berapa kali hal ini harus terjadi di klub-klub Anda sebelum dunia berkata 'cukup'? Nah, teman-teman, saya pikir sudah waktunya untuk berkata 'cukup'," tegas Aleksander Ceferin.
Pada bagian akhir pidatonya, Ceferin menuding adanya pengambil keputusan yang memutarbalikkan regulasi ketika situasi tidak berpihak kepada mereka.
Ia juga menyinggung soal pengesampingan pihak yang memiliki hak suara serta menjadikan masa depan sepak bola sebagai komoditas tawar-menawar.
