PT Asuransi Asei Indonesia menilai pesatnya pembangunan fasilitas data center di Indonesia sebagai peluang pertumbuhan ekosistem bisnis baru bagi industri asuransi.
Penilaian itu disampaikan seiring proyeksi lonjakan kapasitas terpasang data center nasional.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan kapasitas terpasang data center melonjak menjadi 3,5 gigawatt pada 2030 dari posisi 580 megawatt di semester I-2026.
Pertumbuhan infrastruktur digital ini didorong ekspansi layanan cloud, kecerdasan buatan, serta digitalisasi korporasi.
Risiko Kompleks di Seluruh Tahap Proyek
Besarnya nilai investasi dan tingginya ketergantungan operasional pada listrik, pendingin, dan jaringan telekomunikasi memunculkan potensi risiko kompleks sejak tahap pembangunan hingga operasional penuh.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menegaskan bahwa potensi bisnis tersebut melingkupi seluruh tahapan proyek infrastruktur digital.
"Oleh karena itu, industri asuransi dapat masuk melalui beberapa lapisan perlindungan, mulai dari construction risk, property risk, engineering risk, business interruption hingga cyber risk," ujar Dody Dalimunthe.
Guna menangkap peluang ekspansi global ini, pelaku industri ditegaskan perlu memperkuat kapasitas analisis risiko agar proteksi berjalan optimal dan seimbang.
"Jadi, jangan sampai industri hanya melihat besarnya premi, tetapi kurang memperhitungkan severity, accumulation dan systemic risk," tutur Dody Dalimunthe.
Berbagai lini produk pendukung kini disiapkan, mulai dari Construction All Risks (CAR), Erection All Risks (EAR), property insurance, hingga proteksi kerusakan mesin.
Kebutuhan jaminan juga mencakup potensi kehilangan pendapatan usaha serta ancaman kejahatan siber.
"Ketika fasilitas berhenti beroperasi, kerugian dapat berasal dari hilangnya pendapatan, tambahan biaya operational, maupun gangguan terhadap pelanggan," kata Dody Dalimunthe.
Selain itu, pengiriman perangkat bernilai tinggi seperti Graphics Processing Unit (GPU), generator, dan transformer dari pabrik menuju lokasi proyek membutuhkan jaminan pengangkutan khusus.
"Jadi, akan ada sebuah ekosistem risiko yang membutuhkan kombinasi beberapa produk asuransi," ucap Dody Dalimunthe.
Momentum pertumbuhan ini diarahkan untuk mendorong transformasi pelaku usaha menuju spesialisasi penjaminan risiko teknologi dan infrastruktur strategis nasional.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi industri asuransi umum semester I-2026 mencapai Rp 58,19 triliun atau terkontraksi 0,5 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, nilai pembayaran klaim melesat 29,2 persen menjadi Rp 6,18 triliun.
