Kemampuan Artificial Intelligence (AI) yang bisa memberi informasi dengan cepat membuat teknologi ini semakin disukai anak untuk membantu kebutuhan belajar.
Di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran baru bagi orangtua, terutama soal kemungkinan anak terlalu bergantung pada AI saat belajar.
Parenting Educator dan Co-Founder Good Enough Parents, Damar Wahyu Wijayanti, mengatakan kekhawatiran anak menjadi malas merupakan salah satu hal yang banyak dipikirkan orangtua ketika anak mulai menggunakan AI.
Menurut Damar, kekhawatiran tersebut perlu dijawab dengan pendampingan agar anak tetap terlibat dalam proses belajar saat menggunakan teknologi.
Tiga kemampuan yang perlu diasah
Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents, Pritta Tyas Mangestuti, mengatakan ada tiga kemampuan yang perlu diasah pada anak praremaja dan remaja agar mereka tetap siap menghadapi perkembangan teknologi.
Kemampuan pertama adalah critical thinking atau berpikir kritis.
Pritta mengatakan, ketika mendapatkan informasi, anak perlu terbiasa tidak langsung menerimanya, tetapi mampu menganalisis dan mempertanyakan kebenarannya.
“Ketika anak praremaja atau remaja mendapatkan informasi, dia tidak langsung menerima, tetapi dia bisa menganalisis, ini benar enggak, kemudian bertanya lagi, lalu apa?”
ujar Pritta saat peluncuran PandAI untuk Keluarga di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Kemampuan ini membuat anak tetap memiliki peran dalam memahami informasi yang diberikan AI, bukan hanya menerima hasil akhirnya.
Kemampuan kedua yang perlu diasah adalah rasa ingin tahu atau curiosity.
Menurut Pritta, orangtua perlu membantu menumbuhkan rasa ingin tahu anak agar mereka terdorong mengeksplorasi hal yang disukai dan mencari cara lain ketika menghadapi persoalan.
“Kalau anaknya suka seni, misalnya, bagaimana dia bisa lebih mengeksplorasi lagi. Atau anak yang suka logika dan matematika, bagaimana caranya dia menyelesaikan suatu masalah dengan lebih mudah,” katanya.
Rasa ingin tahu membuat anak tidak berhenti setelah menemukan satu jawaban, tetapi terdorong untuk menggali persoalan dan mencari kemungkinan lain.
Pritta juga mencontohkan penggunaan AI saat anak belajar matematika.
Anak bisa tetap mengerjakan soal terlebih dahulu, sebelum kemudian belajar bersama dengan pendampingan.
Kemampuan ketiga adalah komunikasi, yang menurut Pritta tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan orang lain.
Anak juga perlu mampu menyusun apa yang ada di pikirannya dan menyampaikannya dalam struktur yang rapi.
“Bukan hanya sekadar ngomong di depan, tetapi bagaimana dia menyusun, bagaimana dia memasukkan apa yang ada di dalam pikirannya ke dalam struktur yang rapi,” ujar Pritta.
Kemampuan tersebut juga dibutuhkan ketika anak menggunakan AI, karena mereka perlu memahami apa yang ingin diketahui sebelum memberikan pertanyaan kepada teknologi tersebut.
Menurut Pritta, anak perlu terbiasa berpikir secara sistematis sebelum menggunakan AI, misalnya dengan memikirkan apa yang ingin diketahui, alasan ingin mengetahuinya, dan hal-hal apa saja yang ingin dicari tahu.
“Jadi AI itu bukan alat yang tinggal klik, langsung keluar.
Tetapi anak tetap perlu punya kemampuan untuk memasukkan apa yang ada di pikirannya secara sistematis, sehingga AI bisa membantu,” katanya.
Pritta menilai, tiga kemampuan tersebut justru membuat AI dapat menjadi teman bagi anak dalam belajar, bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai musuh.
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn menjelaskan, salah satu fitur yang dapat mendukung proses belajar anak adalah Study Mode.
Diungkap Sandy, fitur tersebut tidak dirancang untuk sekadar memberikan jawaban kepada anak, tetapi membantu mereka memahami pertanyaan dan memikirkan cara untuk menyelesaikannya.
“Study Mode akan membantu mereka benar-benar memikirkan sebuah pertanyaan dan mengasah proses berpikirnya,” ujar Sandy.
Dengan begitu, penggunaan AI tetap dapat menjadi bagian dari proses belajar tanpa mengambil alih seluruh proses berpikir anak.
Menurut Sandy, proses belajar juga tetap membutuhkan peran guru dan orang dewasa, sementara AI dapat digunakan sebagai pelengkap untuk membantu anak mengeksplorasi pertanyaan dan mengembangkan cara berpikirnya.
