unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Subsidi Distribusi Daging Ayam untuk Daerah Kurang Pasokan
News

Subsidi Distribusi Daging Ayam untuk Daerah Kurang Pasokan

Ilustrasi daging ayam ras di pasar untuk distribusi antardaerah
Subsidi Distribusi Daging Ayam untuk Daerah Kurang Pasokan
A A Ukuran Teks16px

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan bantuan subsidi biaya angkut distribusi daging ayam ras bagi pemerintah daerah non-produsen.

Langkah ini untuk mengantisipasi fluktuasi harga yang dipicu pakan ternak dan lonjakan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kenaikan harga komoditas pangan tersebut mendorong inflasi di beberapa wilayah, meski otoritas pangan menilai tingkat harga masih dalam batas wajar.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan menjelaskan biaya logistik antardaerah sering menjadi hambatan utama menjaga keterjangkauan harga pasar.

"Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan," ujar Hermawan.

"Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang," tambahnya.

Skema Subsidi Angkutan Antardaerah

Skema subsidi angkutan difokuskan untuk memindahkan pasokan melimpah dari wilayah sentra produksi menuju daerah yang kekurangan pasokan.

"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah," terang Hermawan.

"Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," ujarnya.

Pemerintah daerah yang mengalami lonjakan harga akibat minimnya produksi lokal diminta segera mengajukan permohonan bantuan angkutan.

"Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya," kata Hermawan.

"Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal," tambahnya.

Sebelumnya, sektor perunggasan sempat tertekan akibat deflasi daging ayam ras pada April 2026 sebesar 6,20 persen dan Mei 2026 sebesar 3,83 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga yang diterima petani unggas menyentuh 138,19 pada Maret 2026, lalu merosot ke 132,22 di April dan 130,57 pada Mei.

Indeks terus menurun hingga Juli 2026 di posisi 127,02, sebelum pulih ke level 132,43 pada Agustus dan 134,99 pada September 2026.

Secara nasional, Bapanas mengestimasi stok daging ayam ras hingga akhir 2026 berada di kisaran 1 juta ton.

Angka itu dihitung dari stok awal 200 ribu ton ditambah perkiraan produksi nasional 4,7 juta ton, serta tingkat konsumsi 3,9 juta ton.

Guna menjamin ketersediaan pakan, Bapanas menjalankan arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.

Tahap pertama program tersebut dibuka sejak awal Mei 2026 dengan kuota salur 213,2 ribu ton untuk peternak skala mikro, kecil, dan menengah.

Hingga 2 Oktober 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan mencapai 71,36 persen atau 172,1 ribu ton dari total target tahap pertama dan kedua sebesar 241,2 ribu ton.

Pasokan tersebut diserap peternak di 29 provinsi, dengan penerima terbanyak di Jawa Timur sebanyak 3.690 peternak dan Jawa Tengah 2.017 peternak.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru