Untuk pertama kalinya dalam lebih dari seperempat abad, warga Amerika Serikat punya pilihan baru saat membeli tabir surya.
Bahan pelindung kulit bernama bemotrizinol, yang sering disebut BEMT, telah lama menjadi andalan di Eropa dan berbagai belahan dunia lain.
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui bemotrizinol pada Juni lalu.
Kini tabir surya pertama yang mengandung bahan itu mulai masuk ke rak toko di AS, termasuk formula dari Neutrogena dan produsen lain.
Para dokter kulit menilai bahan tersebut mengisi celah penting di pasar.
Sebab, bemotrizinol menawarkan perlindungan luas seperti bahan tabir surya paling mapan, tetapi tanpa kekurangan kosmetiknya, termasuk bekas putih bergaris.
BEMT didukung data keamanan selama puluhan tahun, termasuk studi yang menunjukkan penyerapannya ke dalam kulit sangat minimal.
Hal itu sempat menjadi kekhawatiran pada sejumlah bahan kimia penangkal sinar matahari yang lebih tua.
"Ini bukan bahan yang benar-benar baru sehingga Anda akan menjadi orang pertama yang mencobanya," kata Dr. Jennifer Stein, dokter kulit di NYU Langone Health.
Perlindungan Luas Tanpa Bekas Putih
Agar efektif, tabir surya harus melindungi dari dua bentuk sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit.
Keduanya adalah sinar UVB yang menyebabkan sebagian besar kulit terbakar, dan sinar UVA yang menimbulkan risiko terbesar kanker kulit serta kerutan.
Tabir surya yang memblokir kedua bentuk itu diberi label "perlindungan spektrum luas".
Produk yang tidak memenuhi syarat itu harus mencantumkan label peringatan FDA.
BEMT menjadi bahan tabir surya berbasis kimia pertama di AS yang menawarkan perlindungan ganda tersebut.
Sebelumnya, produsen harus mencampur beberapa bahan untuk melindungi dari sinar UVA dan UVB sekaligus.
"Bahan ini memberikan solusi atas celah besar yang saat ini ada terkait penyediaan perlindungan UVA yang kuat," kata David Andrews, kepala ilmuwan Environmental Working Group, sebuah organisasi nirlaba yang mendorong standar tabir surya lebih tinggi.
Kelas tabir surya berbeda yang memakai mineral seperti zinc oxide dan titanium dioxide telah lama terbukti memberi perlindungan kuat terhadap kedua bentuk sinar ultraviolet.
Formula berbasis mineral itu bekerja dengan memblokir sinar berbahaya secara fisik dari kulit.
Namun sebagian orang, terutama mereka yang berkulit lebih gelap, cenderung menghindarinya karena menimbulkan bekas putih bergaris dan perubahan warna.
Dalam kasus lain, orang tidak menyukai tekstur atau konsistensinya.
"Itu tabir surya yang bagus," kata Stein.
"Tetapi bagi orang yang tidak begitu tertarik memakainya, mungkin karena tidak suka rasanya di kulit, ini pilihan yang menyenangkan."
Penetrasi ke Kulit Lebih Rendah
Fakta bahwa tabir surya berbasis kimia diserap ke dalam kulit membuatnya harus diteliti dengan hati-hati.
Tujuannya memastikan bahan itu tidak menumpuk di tubuh pada kadar yang tidak aman.
Bulan lalu, FDA mencabut persetujuan bahan kimia lama bernama oxybenzone setelah menilai bahan itu "diserap melalui kulit lebih besar dari yang dipahami sebelumnya".
Masalah itu tidak terjadi pada BEMT.
"Ini molekul yang terlalu besar untuk benar-benar menembus kulit dan diserap ke aliran darah," kata Stein.
"Tabir surya kimia yang lebih tua memiliki molekul kecil."
Sebagai bagian dari tinjauan keamanan, FDA menelaah studi BEMT pada lebih dari 500 pasien yang dilakukan produsen Belanda, DSM Nutritional Products.
Studi tersebut menemukan kadar bahan kimia yang diserap ke kulit nyaris tidak terdeteksi.
Peninjau lembaga itu menyatakan penelitian pada orang yang memakai tabir surya setiap hari hingga tiga minggu menunjukkan BEMT "tidak menyebabkan iritasi" atau reaksi alergi.
Akibatnya, FDA menetapkan bahan itu sebagai "umumnya diakui aman dan efektif", bersama bahan mineral lama zinc oxide dan titanium dioxide.
Lebih dari selusin bahan lain saat ini dipakai dalam tabir surya AS, tetapi FDA menyatakan bahan-bahan itu memerlukan bukti tambahan untuk mendukung keamanan dan efektivitasnya.
Tinjauan FDA itu bagian dari upaya berkelanjutan merombak bahan tabir surya AS yang dimulai pada 2019.
Ilmuwan telah menunjukkan bahwa sejumlah bahan tabir surya dapat memicu pemutihan dan merusak terumbu karang.
Hal itu mendorong pelarangan dua bahan kimia, oxybenzone yang baru-baru ini disasar FDA dan octinoxate, di Hawaii serta sebagian Florida.
Diperkirakan sekitar 25% tabir surya yang dioleskan ke kulit terbilas saat berenang atau mengarungi air laut.
Pemerintah AS tidak mengklasifikasikan dampak lingkungan tabir surya, dan klaim pemasaran seperti "ramah terumbu" tidak punya definisi atau persyaratan standar.
Badan lingkungan Uni Eropa menemukan "bukti terbatas toksisitas lingkungan" pada BEMT, tetapi penelitian jangka panjang masih diperlukan.
Bahan mineral seperti zinc oxide umumnya dianggap lebih aman bagi lingkungan, meski sebagian ahli menyarankan menjauhi formulasi nano.
Produk itu dibuat dengan partikel sangat kecil yang lebih mungkin terhirup atau diserap organisme laut.
Para ahli menyebut BEMT punya satu keunggulan penting lain, yakni tidak cepat terurai di bawah sinar matahari.
Itu menjadi masalah khusus bagi avobenzone, satu-satunya bahan berbasis kimia lain yang memfilter sinar UVA.
"Avobenzone dikenal sangat tidak stabil dengan sendirinya, dan banyak upaya serta reformulasi dilakukan untuk menstabilkannya," kata Andrews.
"BEMT jauh lebih stabil."
Seperti semua tabir surya, dokter kulit menekankan pentingnya mengoleskan ulang setiap beberapa jam, lebih sering jika berenang atau banyak berkeringat.
Selain itu, orang tidak boleh hanya mengandalkan tabir surya saat berada di luar ruangan, kata Stein.
Beristirahat di tempat teduh, memakai topi, dan mengenakan pakaian pelindung matahari semuanya penting.
"Tabir surya hanyalah satu bagian dari rencana perlindungan matahari secara keseluruhan," kata Stein.
"Pakaian bahkan lebih baik."