unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Lembutnya Seperti Puding Sutra, Tahok Kuah Jahe di Pasar Gedhe Solo yang Antreannya Mengular sejak Pagi
Lifestyle

Lembutnya Seperti Puding Sutra, Tahok Kuah Jahe di Pasar Gedhe Solo yang Antreannya Mengular sejak Pagi

Lembutnya Seperti Puding Sutra, Tahok Kuah Jahe di Pasar Gedhe Solo yang Antreannya Mengular sejak Pagi
Semangkuk tahok, puding kedelai hangat kuah jahe khas Solo. • Dimensi Indonesia
A A Ukuran Teks16px

SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Bayangkan puding selembut sutra yang disiram kuah jahe gula merah hangat. Itulah tahok, jajanan warisan Tionghoa yang sampai sekarang setia dicari di Pasar Gedhe Solo — pembelinya rela mengantre sejak pagi.

Dari Sari Kedelai Menjadi Puding

Bahan dasarnya hanya kedelai, tetapi prosesnya menuntut kesabaran: kedelai direndam, digiling, dan disaring untuk memisahkan sarinya. Sari kedelai itu kemudian dimasak hingga membentuk puding putih yang halus dan rapuh — mirip tahu, tetapi jauh lebih lembut hingga nyaris lumer di sendok.

Di mangkuk, tahok disiram kuah jahe yang dimaniskan gula merah; sebagian penjual meracik kuahnya dengan pandan dan serai supaya lebih harum. Rasa manis hangatnya membuat tahok jadi menu pagi favorit, terutama saat cuaca Solo sedang sejuk.

Saksi Akulturasi di Solo

Tahok bukan makanan asli Solo — ia dibawa tradisi kuliner Tionghoa dan lama-kelamaan diterima sebagai bagian dari meja makan Kota Bengawan. Perjalanannya mencerminkan bagaimana budaya pendatang dan budaya lokal bertemu lalu saling memperkaya kuliner kota ini.

Semakin Sulit Ditemukan

Ironisnya, penjual tahok tradisional justru makin jarang. Di tengah gempuran jajanan modern, gerobak tahok kian susah dijumpai — dan kelangkaan itu malah menaikkan daya tariknya, terlihat dari antrean pagi di Pasar Gedhe. Menjaga tahok tetap dikenal generasi muda berarti menjaga satu bab sejarah kuliner Solo tetap hidup.

Jadi, kalau ke Solo, jangan cuma berburu sate dan tengkleng. Sisihkan satu pagi untuk tahok.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru