SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Banyak hidangan Imlek dipilih bukan hanya karena enak, tetapi karena namanya "berbunyi" seperti doa. Dalam bahasa Mandarin, beberapa kata makanan kebetulan sama bunyinya dengan kata keberuntungan — dan dari sanalah tradisi ini hidup. Berikut empat yang paling populer.
Dumpling, Si "Emas Batangan"
Jiaozi dibentuk menyerupai yuanbao, batangan emas-perak yang dulu jadi alat tukar di Tiongkok kuno. Karena kemiripan bentuk itu, dumpling dimaknai sebagai harapan kekayaan dan kemakmuran. Di Tiongkok utara, membuat dumpling ramai-ramai bersama keluarga menjelang Tahun Baru justru jadi bagian dari perayaannya.
Ikan Utuh, Doa Rezeki Berlebih
Ikan di meja Imlek tidak dipotong — disajikan utuh dari kepala hingga ekor sebagai tanda keutuhan dan kelimpahan. Kata ikan, yú, berhomofon dengan kata kelimpahan, melahirkan ucapan nián nián yǒu yú: semoga tiap tahun selalu ada rezeki berlebih.
Mi Panjang Umur, Jangan Sampai Putus
Changshou mian dimasak dan disantap dengan menjaga untaiannya tetap panjang dan utuh; memotongnya dianggap memotong perlambang umur itu sendiri. Mi ini adalah doa kesehatan dan usia panjang yang bisa dimakan — sampai-sampai ia juga jadi hidangan wajib di banyak perayaan ulang tahun.
Kue Keranjang, Harapan yang Naik Kelas
Nian gao, kue ketan manis dan lengket khas Imlek, namanya terdengar seperti ungkapan "semakin tinggi". Maknanya: semoga karier, usaha, dan hidup setahun ke depan naik tingkat dibanding sebelumnya. Adapun lengketnya kue ini melambangkan keluarga yang tetap erat.
Jadi, lain kali melihat sajian Imlek, ingat: yang dihidangkan sesungguhnya bukan cuma makanan, melainkan harapan baik yang disusun di atas meja.