Posisi Hyundai dan Kia di pasar mobil listrik Eropa kian tertekan. Pada kuartal kedua 2026, gabungan dua merek Korea Selatan itu tersingkir dari lima besar penjual mobil listrik di benua tersebut, sementara di China penjualannya anjlok nyaris 40 persen pada September.
Data sembilan bulan pertama 2026 di Eropa menunjukkan gabungan penjualan Hyundai Motor dan Kia mencapai 770.000 unit, turun 3,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pasar mobil Eropa secara keseluruhan justru tumbuh 6,3 persen. Akibatnya, pangsa pasar gabungan keduanya menyusut 0,7 poin menjadi 7,3 persen.
Di dalam grup, arah kedua merek justru berbeda. Penjualan Hyundai Motor merosot 13,2 persen menjadi sekitar 349.000 unit, sedangkan Kia tumbuh 6,6 persen menjadi sekitar 421.900 unit dan kini menjadi kontributor terbesar grup di Eropa.
Digusur Tesla dan Pabrikan China
Berdasarkan data Counterpoint Research, Tesla masuk ke lima besar penjual mobil listrik Eropa pada kuartal kedua dengan pangsa 8,56 persen. Posisi itu menggeser Hyundai, yang setahun sebelumnya masih berada di peringkat kelima dengan pangsa 7,03 persen.
Tekanan juga datang dari pabrikan China. BYD, Chery Automobile, dan SAIC Motor secara gabungan menjual sekitar 817.000 kendaraan di Eropa selama sembilan bulan pertama 2026, melampaui total penjualan Hyundai dan Kia.
China Makin Sulit, Ioniq V Jadi Andalan
Di China, gabungan penjualan Hyundai dan Kia pada September 2026 hanya sekitar 9.000 unit, turun 39 persen. Hyundai turun 47 persen menjadi sekitar 4.000 unit, sementara Kia turun 31 persen menjadi sekitar 5.000 unit, menurut Hana Securities yang mengutip data China Passenger Car Association.
Untuk membalikkan keadaan, grup tersebut menyiapkan sedan listrik khusus pasar China, Ioniq V. Seorang pejabat industri menilai, di tengah kenaikan tarif Amerika Serikat, Hyundai juga menghadapi persaingan yang makin ketat di Eropa dari produsen China yang menawarkan harga lebih terjangkau. Hyundai Motor sendiri dijadwalkan melaporkan hasil kuartal ketiga pada Kamis, dengan proyeksi laba operasi 2,4 triliun won atau sekitar 1,8 miliar dolar AS, turun 5,3 persen dibanding tahun sebelumnya.