unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Bakrie Sumatera Pangkas Rugi Bersih 32 Persen, Penjualan Sawit Naik 19 Persen
News

Bakrie Sumatera Pangkas Rugi Bersih 32 Persen, Penjualan Sawit Naik 19 Persen

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit yang menjadi komoditas utama PT Bakrie Sumatera Plantations
Bakrie Sumatera Pangkas Rugi Bersih 32 Persen, Penjualan Sawit Naik 19 Persen
A A Ukuran Teks16px

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatat rugi bersih Rp 43 miliar hingga September 2026.

Angka itu turun 32 persen dibandingkan rugi Rp 63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan kinerja ini ditopang oleh kenaikan penjualan perseroan yang mencapai Rp 2,21 triliun.

Penjualan tersebut tumbuh 19 persen dari Rp 1,86 triliun pada kuartal III-2025.

Sawit Masih Dominasi Pendapatan

Direktur dan Investor Relations UNSP Andi W. Setianto menyebut komoditas kelapa sawit masih menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan.

Sawit menyumbang Rp 2,157 triliun atau sekitar 97 persen dari total penjualan.

Sementara itu, komoditas karet hanya berkontribusi Rp 58 miliar atau sekitar 3 persen.

Dari sisi profitabilitas, laba kotor UNSP tumbuh 4 persen menjadi Rp 598 miliar dari Rp 576 miliar.

Namun, laba operasi turun 10 persen menjadi Rp 281 miliar dari sebelumnya Rp 311 miliar.

EBITDA perusahaan juga menyusut 3 persen menjadi Rp 419 miliar dibandingkan Rp 431 miliar pada periode sebelumnya.

Untuk tahun buku 2026, manajemen menargetkan penjualan sekitar Rp 3 triliun dan membukukan keuntungan bersih.

Guna mendukung target itu, UNSP mengoptimalkan pengolahan tandan buah segar dari perkebunan sendiri.

Perusahaan juga membeli TBS dari kebun plasma dan pihak ketiga untuk menopang produksi serta penjualan produk sawit.

Strategi lain dilakukan melalui peremajaan perkebunan dan penggunaan bibit unggul.

Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan produksi minyak sawit mentah atau CPO per hektare.

UNSP turut mengupayakan peningkatan pemanfaatan kapasitas pabrik dengan membeli buah sawit dari petani yang tidak memiliki fasilitas pengolahan sendiri.

Di sisi keuangan, perseroan menjalankan penguatan struktur permodalan melalui konversi utang menjadi saham dengan skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD).

Perseroan juga melakukan revaluasi aset tanah dan tanaman produktif.

Berdasarkan laporan per 30 September 2026, total aset UNSP mencapai Rp 7,4 triliun, meningkat 115 persen dari Rp 3,4 triliun pada akhir 2025.

Revaluasi tanah dan tanaman produktif senilai Rp 3,74 triliun menjadi faktor utama peningkatan tersebut.

Pada periode yang sama, total liabilitas menyusut 46 persen menjadi Rp 4,7 triliun dari Rp 8,7 triliun.

Penurunan ini terutama berasal dari konversi utang menjadi saham senilai Rp 4,35 triliun.

Ekuitas perusahaan berbalik positif menjadi Rp 2,77 triliun, membaik Rp 8,04 triliun dibandingkan ekuitas negatif Rp 5,27 triliun pada akhir 2025.

Direktur Utama UNSP Bayu Irianto menyatakan perusahaan akan melanjutkan peningkatan produktivitas perkebunan dan pabrik sekaligus memperbaiki struktur permodalan.

Ia juga menyampaikan keyakinan terhadap prospek perusahaan dalam jangka menengah dan panjang seiring penguatan fundamental bisnis.

UNSP mengembangkan bibit unggul yang diklaim berpotensi menghasilkan hingga 10 ton CPO per hektare per tahun.

Potensi itu dihitung berdasarkan produksi 40 ton buah sawit per hektare per tahun dengan tingkat ekstraksi CPO sebesar 25 persen.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru