Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) mengungkap fenomena masif alih fungsi lahan karet menjadi perkebunan kelapa sawit.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi IV DPR RI pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Ketua DPW Apkarindo Supartijo menyebut produktivitas karet nasional terus menurun akibat usia pohon yang sudah tua.
Lahan produktif yang tersisa diperkirakan hanya berkisar 300.000 hingga 400.000 hektare.
"Banyak sekarang terjadi mutasi dari komoditi karet pindah nanam sawit," ucap Supartijo dalam RDPU tersebut.
Sebagian besar perkebunan karet di Indonesia merupakan peninggalan program era Presiden Soeharto kurun 1980 hingga 2000.
Meski harga komoditas karet sedang naik, hasil penderapan tidak maksimal karena petani harus melakukan teknik sadap atas pada pohon tua.
"Sekarang harganya sudah naik, tapi karetnya sudah tua, sadapnya sudah sadap atas (overtapping), dan hasilnya sangat rendah," sambung dia.
Perbedaan tingkat perhatian pemerintah terhadap komoditas sawit dan karet menjadi alasan utama peralihan tersebut.
Petani sawit mendapatkan bantuan dana peremajaan tanaman sebesar Rp 60 juta per hektare, sementara petani karet tidak menerima subsidi bibit maupun pupuk.
"Karet?
Boro-boro dikasih bibit, boro-boro dibantu pupuk, dilihat saja enggak oleh pemerintah, dari mulai kabupaten sampai pusat," ungkap dia.
Supartijo menambahkan petani karet sangat sakti karena dengan 1 hingga 2 hektar harus menghidupi 4 hingga 5 anak.
Atas kondisi tersebut, Apkarindo mendesak DPR RI untuk memfasilitasi penyaluran bantuan dana peremajaan bagi para petani karet agar sektor ini tetap bertahan.
"Kalau sawit dapat Rp 60 juta, kita setengahnya aja Rp 30 juta," pungkas dia.
