unique visitors counter
⌂ Beranda News Paket Wisata Adaptif Jadi Peluang Berwisata di Tengah Tekanan Global

Paket Wisata Adaptif Jadi Peluang Berwisata di Tengah Tekanan Global

Paket Wisata Adaptif Jadi Peluang Berwisata di Tengah Tekanan Global
Ilustrasi paket wisata adaptif
A A Ukuran Teks16px

Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) melihat peluang di sektor pariwisata nasional di tengah konflik global. Strateginya adalah menciptakan paket wisata yang lebih adaptif.

Ketua Astindo Pauline Suharno menjelaskan paket tersebut disesuaikan dengan kondisi terkini. Misalnya, perjalanan lebih pendek, fokus ke destinasi regional, dan anggaran lebih terjangkau.

>>> Kapal Pembawa Migran Ilegal Tenggelam Lagi di Perairan Malaysia

IN2

Hal itu disampaikan Pauline dalam acara ASTINDO Nusantara Travel Exchange 2026 di Jakarta, Senin (18/5/2026). Ia menekankan pentingnya menyediakan alternatif perjalanan yang hemat.

Paket wisata yang lebih pendek dan murah ditujukan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Mereka yang terdampak tekanan ekonomi tetap bisa berwisata, terutama saat liburan sekolah.

Salah satu contohnya adalah perjalanan overland menggunakan sleeper bus. Biaya perjalanan bisa ditekan, dan waktu makan dibuat lebih fleksibel.

in2

Pauline mengatakan, jika dulu makan bersama dalam grup adalah hal umum, kini paket tidak menyertakan fasilitas makan bersama.

Wisatawan bisa menikmati kuliner lokal sesuai kebutuhan, sekaligus mengurangi biaya.

Langkah ini juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Wisatawan dapat berdampak positif bagi masyarakat lokal melalui konsumsi kuliner setempat.

Astindo sudah merancang paket perjalanan darat dengan durasi lebih pendek. Contohnya, rute dari Yogyakarta ke Banyuwangi atau Solo menggunakan kereta api.

Pauline berharap masyarakat tidak diam saja saat long weekend. Mereka tetap bisa melakukan perjalanan aglomerasi dengan paket yang ditawarkan.

>>> Anggota APEC Gelar Pertemuan di Shanghai untuk Siapkan KTT November 2026

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dan edukasi kepada masyarakat. Koordinasi antarkementerian dan lembaga juga krusial dalam pengambilan kebijakan pariwisata.

Koordinasi antarlembaga diperlukan agar kebijakan tidak merugikan sektor pariwisata. Pariwisata memiliki efek pengganda yang luas, sehingga perlu sinergi dengan imigrasi, keuangan, dan sumber daya manusia.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru