Teheran – Iran pada Senin (19/5/2026) mengumumkan telah menanggapi proposal baru dari Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa pertukaran diplomatik terus berlangsung meskipun media Iran melaporkan tuntutan Washington dianggap terlalu tinggi.
>>> Baru 7 Perusahaan Tambang di Sulteng Kantongi RKAB 2026
AS dan Iran telah saling bertukar proposal untuk mengakhiri konflik yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Namun, baru satu putaran perundingan yang digelar meskipun gencatan senjata rapuh telah berlaku.
Kekhawatiran Iran Disampaikan
“Kekhawatiran kami telah disampaikan kepada pihak Amerika,” kata Baqaei dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa pertukaran masih berlanjut melalui mediator Pakistan.
Baqaei membela tuntutan Iran, termasuk pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan pencabutan sanksi yang sudah lama berlaku.
“Poin-poin yang diajukan adalah tuntutan Iran yang telah dipertahankan dengan tegas oleh tim negosiator Iran di setiap putaran perundingan,” ujarnya.
Ia juga membela ketentuan Iran agar AS membayar reparasi perang, dengan menyebut konflik tersebut sebagai “ilegal dan tidak berdasar.”
Mengenai kemungkinan konfrontasi militer lain, Baqaei mengatakan Iran “siap sepenuhnya untuk segala kemungkinan.”
Tuntutan AS Dinilai Berlebihan
Pada Minggu, kantor berita Iran Fars melaporkan bahwa Washington menyajikan daftar lima poin, termasuk tuntutan agar Iran hanya mengoperasikan satu situs nuklir dan mentransfer stok uranium yang diperkaya tinggi ke AS.
AS juga menolak melepaskan “bahkan 25 persen” aset beku Iran atau membayar reparasi.
Fars mengatakan AS juga menegaskan hanya akan menghentikan permusuhan jika Teheran terlibat dalam perundingan damai formal.
Kantor berita Mehr Iran menyebut “Amerika Serikat, tanpa menawarkan konsesi nyata, ingin mendapatkan konsesi yang gagal diperoleh selama perang, yang akan menyebabkan jalan buntu dalam negosiasi.”