Seorang juri federal di Oakland, California, pada Senin (19/5/2026) memutuskan bahwa Elon Musk terlalu lama menggugat OpenAI dan para pendirinya.
Putusan ini menjadi kemenangan telak bagi CEO OpenAI Sam Altman dan mengakhiri salah satu pertarungan pengadilan paling disorot di Silicon Valley.
>>> Kevin Warsh Resmi Dilantik sebagai Ketua Fed Jumat Ini
Juri menemukan bahwa klaim Musk terhadap Altman, Presiden OpenAI Greg Brockman, The OpenAI Foundation, dan Microsoft telah dibatasi oleh undang-undang pembatasan (statute of limitations).
Hakim Yvonne Gonzalez Rogers, yang meminta juri memberikan pendapat, menerima dan mengonfirmasi putusan tersebut.
Persidangan selama tiga pekan itu menghadirkan sederet tokoh teknologi besar sebagai saksi.
Musk berargumen bahwa perubahan OpenAI menjadi perusahaan berorientasi laba telah mengkhianati mandat nirlaba awalnya.
Hasil sidang menyelamatkan OpenAI dari ancaman hukum yang berpotensi eksistensial.
Jika Musk menang, ia berupaya memaksa perusahaan kembali ke struktur nirlaba. Langkah itu akan menggagalkan rencana IPO dan memutus hubungan dengan investor besar seperti Microsoft, Amazon, dan SoftBank.
Musk, orang terkaya di dunia, menggugat OpenAI atas transformasinya dari organisasi nirlaba kecil menjadi raksasa bernilai $850 miliar di balik ChatGPT.
Ia mengklaim Altman dan Brockman menggunakan donasi $38 juta yang ia berikan untuk mempertahankan OpenAI sebagai laboratorium riset yang mengembangkan AI demi kemanusiaan.
Juri terlebih dulu harus menyelesaikan isu ambang batas: apakah Musk yang mengajukan gugatan pada 2024—empat tahun setelah kontribusi terakhirnya—masih dalam batas waktu hukum.
Juri memutuskan tidak, sehingga kasus berakhir sebelum juri dapat mempertimbangkan substansi perkara.
Hakim telah memutuskan sebelum musyawarah bahwa putusan juri tentang batas waktu bersifat advisori, tetapi ia akan mengikuti rekomendasinya.