Festival Film Cannes ke-79 akan segera berakhir pada Sabtu ini dengan pengumuman Palme d'Or, salah satu penghargaan tertinggi di dunia perfilman.
Tahun ini, persaingan disebut sangat terbuka.
>>> Ledakan Gas di Tambang Batu Bara China Tewaskan 82 Orang
Secara umum, festival edisi ini dinilai kurang gemilang. Hollywood sebagian besar absen, dan banyak film yang diputar kesulitan memikat kritikus.
Gairah global yang biasanya dihasilkan Cannes pun terasa lebih redup.
Meski begitu, ketiadaan calon kuat justru memberi keleluasaan bagi sembilan anggota juri yang diketuai sineas Korea Park Chan-wook.
Palme d'Or bisa langsung mengangkat profil internasional sebuah film dan membuka jalan menuju Oscar.
Film-film yang Menonjol
Beberapa film yang mendapat sambutan hangat antara lain "Fatherland" karya Pawel Pawlikowski, sebuah refleksi hitam-putih pascaperang tentang seni dan politik.
Ada pula "All of a Sudden" dari Ryusuke Hamaguchi, drama tiga jam tentang perawatan lansia yang lembut.
Dari Rusia, Andrey Zvyagintsev menghadirkan "Minotaur", drama kriminal di Rusia kontemporer. Sementara Cristian Mungiu dari Rumania membuat "Fjord", film tentang mimpi buruk layanan anak di Norwegia.
Pada hari kedua terakhir festival, muncul kuda hitam: "The Black Ball" garapan Javier Calvo dan Javier Ambrossi.
Film Spanyol yang panjang ini mendapat sambutan paling antusias di Cannes, mengisahkan tiga pria gay lintas generasi.
>>> Ledakan Gas di Tambang Batu Bara China Tewaskan 8 Orang, Puluhan Terjebak
Namun, Palme d'Or adalah salah satu penghargaan paling sulit ditebak. Proses musyawarah juri sepenuhnya rahasia, dan 22 film dalam kompetisi berpeluang menang.
Juri tahun ini juga mencakup Demi Moore, Chloé Zhao, dan Stellan Skarsgård.
Para pemenang penghargaan lain—seperti aktris terbaik, aktor terbaik, dan grand prix—diminta kembali ke Cannes untuk upacara penutupan.
