unique visitors counter
⌂ Beranda News Paus Leo Serukan Perlambatan dan Regulasi Ketat AI dalam Ensiklik Pertama

Paus Leo Serukan Perlambatan dan Regulasi Ketat AI dalam Ensiklik Pertama

Paus Leo Serukan Perlambatan dan Regulasi Ketat AI dalam Ensiklik Pertama
Paus Leo XIV saat presentasi ensiklik Magnifica Humanitas di Vatikan
A A Ukuran Teks16px

"Teori 'perang adil' yang terlalu sering digunakan untuk membenarkan perang apa pun, kini sudah usang," tulis Paus.

"Penggunaan kekerasan, kekuatan, dan senjata mencerminkan kemiskinan relasional yang selalu membawa konsekuensi buruk bagi penduduk sipil."

Paus juga menyatakan kekhawatiran bahwa para pemimpin dapat memulai perang untuk mengalihkan perhatian warga dari masalah domestik.

IN2

"Kita tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa beberapa pemimpin menganggap konflik bersenjata sebagai cara efektif untuk mengalihkan perhatian dari masalah dalam negeri dan alat sinis untuk mengelola kesulitan," tulisnya.

Regulasi AI dalam Peperangan

Paus menegaskan bahwa penggunaan AI dalam peperangan harus tunduk pada batasan etis yang paling ketat. Ia menyebut "tidak diperbolehkan" untuk mempercayakan sistem AI dengan keputusan yang mematikan.

Dalam acara presentasi di Vatikan, salah satu pendiri Anthropic, perusahaan di balik alat AI Claude, berterima kasih kepada Paus karena telah membahas masalah yang ditimbulkan oleh teknologi disruptif ini.

in2

"Setiap laboratorium AI terdepan, termasuk Anthropic, beroperasi dalam serangkaian insentif dan kendala yang terkadang dapat bertentangan dengan melakukan hal yang benar," kata Chris Olah.

>>> Pemkab Brebes Salurkan Ribuan Paket Bansos Wardoyo Tahap I

Permintaan Maaf atas Perbudakan

Paus Leo XIV mengecam apa yang disebutnya sebagai "bentuk perbudakan baru" yang dialami oleh orang-orang yang merawat sistem AI dan pekerja pabrik yang memproduksi perangkat teknologi.

"Di beberapa wilayah dunia, anak-anak dan remaja bekerja dalam kondisi berbahaya, menghancurkan bahan-bahan dari mana elemen tanah jarang diekstraksi," tulis Paus.

"Tubuh orang-orang ini terluka, cedera, dan aus agar aliran komputasi dapat berlangsung tanpa henti. Realitas ini sangat menantang hati nurani moral zaman kita."

Paus juga mengakui bahwa Gereja Katolik tidak secara tegas mengutuk perbudakan transatlantik hingga abad ke-19. Ia menyampaikan permintaan maaf pribadi.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru