Bahrain dan UEA telah menandatangani perjanjian itu, bersama dengan Maroko dan Sudan.
Pasukan AS dan Iran telah mengamati gencatan senjata sejak 8 April.
Para diplomat terus mendorong penyelesaian yang dinegosiasikan, meskipun Iran masih mempertahankan kendali atas pelayaran Teluk melalui Selat Hormuz dan Angkatan Laut AS berusaha memblokade pelabuhan Iran.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran akan "hebat dan berarti" atau "tidak ada kesepakatan".
Sikap Negara Arab dan Reaksi Publik
Meskipun Perjanjian Abraham disambut oleh beberapa pihak, perjanjian itu tetap sangat tidak populer di banyak bagian Timur Tengah.
Sebagian karena gagal mengatasi konflik Israel-Palestina.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar telah mengatakan mereka tidak akan pernah menormalisasi hubungan dengan Israel kecuali negara Palestina yang merdeka diciptakan.
Posisi Arab Saudi tentang masalah Palestina tetap tidak berubah, kata seorang sumber Saudi kepada penyiar Al Arabiya yang berbasis di Riyadh pada Senin.
Sumber itu menambahkan bahwa "perlu ada jalur yang tidak dapat diubah menuju negara Palestina."
>>> Swedia Capai Target Bebas Rokok, Perokok Harian di Bawah 5 Persen
Anna Jacobs dari Arab Gulf States Institute di Washington mengatakan tuntutan terbaru Trump menambah bencana perang di semua lini bagi negara-negara Teluk.
"Keamanan nasional negara-negara Teluk telah terancam lebih dari sebelumnya karena keputusan ceroboh Presiden Trump, dan dia mengharapkan negara-negara Arab berterima kasih dan menormalisasi hubungan dengan Israel, yang tidak akan mereka lakukan pada tahap ini," katanya.
"Ekspektasi dan asumsi dari pemerintahan AS ini menunjukkan betapa sedikitnya mereka memahami Timur Tengah."
Tuntutan maksimalis Trump muncul setelah diplomat top AS Marco Rubio mengisyaratkan kesepakatan dapat dicapai dalam sehari, menyebabkan harga minyak dunia turun berdasarkan optimisme baru tentang kesepakatan.