Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap kapal-kapal Iran. Aksi tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Serangan yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS itu menargetkan kapal-kapal yang diduga membawa senjata dan minyak secara ilegal.
>>> 30 Ucapan Idul Adha 2026 untuk Atasan dan Karyawan, Sopan dan Hangat
Langkah ini mempertegang hubungan antara Washington dan Teheran.
Pasar Gelisah Akibat Ketegangan
Ketegangan di kawasan Teluk Persia langsung berdampak pada harga minyak. Para pelaku pasar khawatir gangguan pasokan akan terjadi jika konflik meluas.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 2 persen dalam perdagangan terakhir. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan signifikan.
Analis memperkirakan volatilitas harga masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Situasi geopolitik yang tidak menentu menjadi faktor utama pendorong kenaikan.
Serangan AS terhadap kapal Iran ini bukanlah insiden pertama. Sebelumnya, Washington telah meningkatkan patroli dan pengawasan di perairan strategis tersebut.
Iran sendiri telah memperingatkan akan merespons setiap tindakan agresif. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar energi global.
Bagi negara-negara pengimpor minyak, kenaikan harga ini menjadi beban tambahan. Inflasi dan biaya produksi berpotensi meningkat seiring melonjaknya harga komoditas energi.
>>> Harga Emas 26 Mei 2026: Turun Tipis Jadi Rp2.798.000 Per Gram
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya belum mengumumkan langkah khusus untuk menstabilkan harga. Namun, mereka terus memantau perkembangan situasi.
Beberapa analis menyarankan agar negara konsumen memperkuat cadangan strategis minyak mereka. Langkah ini bisa menjadi bantalan jika terjadi gangguan pasokan yang lebih parah.
Di sisi lain, investor energi mulai beralih ke aset safe haven seperti emas. Ketidakpastian geopolitik membuat pasar saham sektor energi justru mengalami tekanan.
