Masyarakat internasional, termasuk PBB, telah menyerukan gencatan senjata. Namun, upaya mediasi sejauh ini belum membuahkan hasil yang signifikan.
Pernyataan Khamenei juga disambut oleh para pendukungnya di Iran.
Pada 24 Mei lalu, sebuah upacara peringatan bagi korban perang digelar di Masjid Mosallah, Teheran, yang dihadiri ribuan orang.
Dalam upacara tersebut, para peserta membawa foto Khamenei dan meneriakkan yel-yel anti-AS dan anti-Israel. Hal ini menunjukkan dukungan rakyat Iran terhadap sikap keras pemimpin mereka.
Di sisi lain, Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Khamenei. Namun, para analis memperkirakan bahwa pernyataan ini akan mempersulit negosiasi yang sedang berlangsung.
Negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga belum bereaksi.
Mereka selama ini menjadi sekutu utama AS di kawasan dan memiliki pangkalan militer Amerika di wilayah mereka.
>>> Kunjungan Marco Rubio ke New Delhi: Peluang Perbaiki Hubungan AS-India
Jika pernyataan Khamenei diikuti dengan tindakan nyata, hal ini dapat mengubah peta geopolitik di Timur Tengah.
Kehilangan pangkalan di Teluk akan menjadi pukulan besar bagi strategi militer AS di kawasan.
Namun, para pengamat meragukan apakah Iran memiliki kapasitas untuk memaksa negara-negara Teluk mengusir pasukan AS. Iran sendiri sedang menghadapi sanksi ekonomi dan tekanan militer yang berat.
Meskipun demikian, pernyataan Khamenei menunjukkan bahwa Iran tidak akan mundur dalam konfrontasi dengan AS. Teheran tampaknya ingin memanfaatkan momentum perang untuk memperkuat posisi tawarnya.
Perang Iran-AS-Israel telah memasuki bulan ketiga dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Kedua belah pihak masih bersikeras pada tuntutan masing-masing.
Iran menuntut pencabutan semua sanksi dan jaminan bahwa AS tidak akan menyerang lagi. Sementara itu, AS dan Israel menuntut penghentian program nuklir Iran dan pengakuan atas keberadaan Israel.